Strategi berbasis sustainability bantu picu pertumbuhan bisnis

Komitmen Unilever secara global untuk menjadikan sustainability sebagai elemen utama dalam pertumbuhan bisnis ternyata terbukti bisa membantu mendorong penjualan sekaligus menekan resiko dan biaya-biaya.

Jakarta, 2 Mei 2013 – Komitmen Unilever secara global untuk menjadikan sustainability sebagai elemen utama dalam pertumbuhan bisnis ternyata terbukti bisa membantu mendorong penjualan sekaligus menekan resiko dan biaya-biaya. Demikian disebutkan dalam laporan pencapaian tahun kedua dari Unilever Sustainable Living Plan, yang merupakan strategi Unilever untuk menumbuhkan bisnisnya dua kali lipat sambil mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan serta meningkatkan dampak positif yang dibawa untuk masyarakat.

External Relations Director dan Corporate Secretary PT Unilever Indonesia Tbk. Sancoyo Antarikso mengatakan, “ Pada November 2010 Unilever secara global meluncurkan strategi yang disebut Unilever Sustainable Living Plan, yang merupakan wujud komitmen Unilever untuk mengembangkan bisnis secara bertanggungjawab terhadap dampak yang ditimbulkan oleh bisnisnya terhadap lingkungan dan masyarakat di sepanjang rantai nilai, mulai dari pemilihan bahan baku sampai ke penggunaan produk oleh konsumen.” Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai dalam strategi ini pada tahun 2020, yakni 1) membantu lebih dari satu milyar orang di seluruh dunia untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka, 2) memasok 100% bahan baku pertanian dari sumber yang sustainable dan 3) menurunkan sampai separuh dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh operasi dan produk Unilever di seluruh rantai nilainya.

“Saat ini kami sudah dua tahun menjalankan strategi yang berjangka waktu 10 tahun ini. Kami mulai melihat bahwa menjadikan sustainability sebagai prinsip dalam berbisnis ternyata dapat membuat kami lebih sukses terbukti dengan di tahun 2012, pertumbuhan penjualan kami meningkat sebesar 19,2% dan mencapai penjualan bisnis Rp. 27,3 triliun serta peningkatan laba bersih sebesar 15,4%, mencapai Rp. 4,9 triliun. Dengan demikian, kami telah berhasil melipatgandakan bisnis kami dalam kurun waktu lima tahun. Sedangkan untuk pencapaian kami pada kuartal satu 2013, penjualan meningkat 14,7% menjadi Rp 7,6 triliun dan laba bersih meningkat 23,1% mencapai Rp 1,4 triliun.” papar Sancoyo Antarikso.

Ada tiga manfaat utama yang dirasakan oleh Unilever Indonesia setelah menerapkan strategi ini, seperti yang dijelaskan lebih lanjut oleh Sancoyo Antarikso. Pertama, brand-brand yang menjadikan sustainability sebagai prinsip dalam berinovasi dan dalam misinya ternyata mengalami pertumbuhan penjualan yang sangat baik. Kedua, strategi ini membantu Unilever Indonesia menekan biaya melalui efisiensi pemakaian energi, air dan produksi limbah di pabrik-pabriknya. Ketiga, strategi ini membantu Unilever Indonesia mengurangi resiko keberlangsungan bisnis di masa yang akan datang dengan cara mengamankan pasokan bahan baku pertanian yang diperlukan untuk produk-produk Unilever Indonesia.

Sebagai contoh dari produk yang menjadikan sustainability sebagai prinsip dalam inovasi dan misinya, Molto sekali bilas dengan inovasi produknya yang dapat menghemat pemakaian air untuk membilas cucian sampai sepertiganya, mengalami pertumbuhan yang sangat baik dalam dua tahun belakangan. Lifebuoy dengan misi membentuk perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat melalui kampanye kebiasaan cuci tangan pakai sabun juga mengalami peningkatan penjualan yang sangat baik. Produk es krim untuk anak-anak, Paddle Pop, yang telah direduksi kandungan kalori serta diperkaya dengan kandungan kalsium juga mengalami pertumbuhan yang sangat baik.

Selain itu, semakin banyak brand Unilever yang mengintegrasikan prinsip dan pesan sustainability di dalam strateginya. Contohnya, melalui produk-produk homecarenya seperti Sunlight, Molto, Rinso, dan PureIt, Unilever memberdayakan para ibu untuk hidup secara lebih higienis dan ramah lingkungan serta secara bersamaan meningkatkan kualitas hidupnya dengan membentuk komunitas Ibu Bercahaya.

Pada saat yang bersamaan, efisiensi pemakaian energi , air, material serta pengurangan limbah di pabrik-pabrik Unilever di seluruh dunia telah membantu Unilever secara global menghemat 300 juta Euro sejak 2008.

Manfaat lain dari Sustainable Living Plan sebagaimana dipaparkan diatas adalah dalam bidang pengelolaan resiko pengadaan bahan baku, khususnya bahan baku pertanian. Separuh dari bisnsi Unilever secara global adalah dalam produk makanan dan minnuman. Dengan semakin sempitnya lahan pertanian, semakin berkurangnya air untuk irigasi sementara kebutuhan pangan dunia diperkirakan naik 50% di tahun 2030 (sumber PBB/ FAO), dengan memasok bahan baku pertanian dari sumber yang sustainable, Unilever menjamin keaman suplai yang dibituhkan untuk memenuhi permintaan dan menumbuhkan bisnis. Secara global Unilever telah meningkatkan pasokan bahan baku pertanian dari sumber yang sustainable dari 14% pada tahun 2010 menjadi 36% pada tahun 2012.

Laporan tahun kedua Unilever Sustainable Living Plan

Selanjutnya, Sancoyo Antarikso menjabarkan bahwa setelah dua tahun mengimplementasikan strategi Unilever Sustainable Living Plan dengan tiga tujuan utama sebagaimana disebutkan diatas, ada dua area dimana Unilever telah meraih kemajuan yang sangat baik, yaitu dalam membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan dan memasok bahan baku pertanian dari sumber yang sustainable.

Membantu lebih dari satu milyar orang di seluruh dunia untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Di area ini, Unilever telah membuat kemajuan yanng sangat baik. Secara global kami telah menjangkau 224 juta orang melalui program pembentukan perilaku hidup berrsih dan sehat melalui kampanye cuci tangan pakai sabun, penyediaan air minum yang aman, edukasi kesehatan gigi dan pembentukan rasa percaya diri pada kaum muda. Lifebuoy telah menjangkau 71 juta orang di 16 negara di 2012 – 5 kali lipat dibandingkan tahun 2010. Di Indonesia, kampanye cuci tangan pakai sabun dari Lifebuoy telah membina lebih dari 65 ribu dokter kecil yang berasal dari lebih dari 8000 sekolah dasar. Sementara, kampanye sikat gigi pagi dan malam telah menjangkau lebih dari 1,8 juta anak sekolah dasar. Melalui program kesehatan untuk anak remaja, Unilever Indonesia telah menyentuh lebih dari 300 ribu anak sekolah tingkat menengah dan atas.

Memasok 100% bahan baku pertanian dari sumber yang sustainable

Saat ini sudah lebih dari sepertiga (36%) dari bahan baku pertanian yang dibeli oleh Unilever secara global berasal dari sumber yang sustainable, khususnya unntuk minyak sawit, gula, kakao, sayuran dan minyak biji bunga matahari. Di seluruh dunia, Unilever telah melatih 450,000 petani teh untuk melakukan pennanaman secara sustainable, 300,000 di antaranya telah meraih sertiikasi rainforest Alliance. Untuk menunjang ketersediaan pasokan bahan baku untuk kecap Bango, Unilever telah membina lebih dari 9,000 petani kedelai hitam dengan cakupan lahan lebih dari 2,000ha dan lebih dari 500 penderes gula kelapa dengan cakupan lebih dari 300ha.

Menurunkan sampai separuh dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh operasi dan produk Unilever di seluruh rantai nilainya Unilever berhasil meraih kemajuan di area yang bisa dikontrol. Antara tahun 2008-2012 emisi gas rumah kaca dari energi yang digunakan di pabrik-pabrik Unilever di seluruh dunia berkurang hampir sepertiganya. Limbah pabrik secara global juga berkurang separuhnya.

”Pada tahun 2012, pabrik kami yang beroperasi di Indonesia juga berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca dari energi yang digunakan rata-rata sebesar 20% dibandingkan dengan tahun 2008. Untuk limbah hasil produksi, limbah berbahaya kami sudah 100% dikelola oleh pihak ketiga yang telah mendapatkan ijin oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk kemudian diolah kembali sehingga tidak merusak lingkungan. Sedangkan untuk limbah tidak berbahaya, saat ini kami sudah berhasil mengurangi hingga setengahnya,” jelas Sancoyo Antarikso.

Namun, dampak yang ditimbulkan oleh pabrik-pabrik Unilever terhadap lingkungan hanya sebagian kecil (4%) dari dampak lingkungan secara total yang ditimbulkan oleh Unilever. 25% jejak dampak lingkungan timbul dari pemasokan bahan baku dan sebagian besar jejak karbon (68%) justru timbul saat produk Unilever digunakan oleh konsumen untuk memasak, mencuci atau membersihkan. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana Unilever bisa membuat konsumennya untuk menggunakan produk-produk secara lebih bijak di rumah sehingga dapat mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Unilever Indonesia tidak henti-hentinya melakukan edukasi para konsumennya. Program Ibu Bercahaya yang diluncurkan di Indonesia, serta edukasi pemilahan sampah rumah tangga melalui program ”Green and Clean” yang saat ini telah ada di 9 kota besar di Indonesia adalah dua contoh nyata bagaimana Unilever Indonesia mengedukasi konsumen untuk berperilaku lebih ramah lingkungan di rumahnya.

”Walau banyak kemajuan telah dicapai, dunia masih menghadapi banyak tantangan besar di depan yang tidak bisa kami tangani sendiri. Banyak orang masih mengalami keterbatasan akses untuk makanan, gizi, sanitasi, sarana kebersihan, air minum yang aman serta ketersediaan pekerjaan yang layak. Semua itu merupakan masalah dunia yang harus kita tangani bersama. Kami percaya bahwa pelaku bisnis punya peran besar dalam memecahkan masalah tersebut; namun untuk membuat perubahan yang benar-benar sigifikan, kami percaya bahwa diperlukan kerjasama yang lebih banyak dan lebih erat lagi antara pelaku bisnis, pemerintah, LSM dan konsumen,” tutup Sancoyo Antarikso.

Indonesia

PT Unilever Indonesia

Graha Unilever

Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 15

Jakarta 12930

+62 21 5299 6773 / 6818

info.uli@unilever.com

Back to top