1. Home
  2. ...
  3. Press releases
  4. Komitmen Unilever dalam Mengatasi Masalah Sampah Plastik

Komitmen Unilever dalam Mengatasi Masalah Sampah Plastik

Unilever menerapkan komitmen jangka panjang melalui langkah-langkah nyata dan terukur untuk ikut mengatasi permasalahan sampah plastik di Indonesia, terutama berkaitan dengan sampah kemasan plastik sekali pakai yang umum digunakan di industri FMCG.

Upaya-upaya tersebut kami lakukan mulai dari hulu, tengah, sampai hilir dari rantai bisnis kami. Upaya ini merupakan realisasi dari strategi Unilever secara global yaitu USLP (Unilever Sustainable Living Plan) untuk terus menumbuhkan bisnis seraya mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan dalam operasi bisnis kami, serta meningkatkan manfaat sosial bagi masyarakat.

I.   Hulu

Di bagian hulu, yaitu pada saat merancang produk dan kemasan, kami memiliki komitmen besar secara global untuk lebih bijak dalam hal penggunaan kemasan plastik, yaitu:

  • Pada tahun 2025, 100% kemasan plastik produk kami akan dapat didaur ulang, digunakan kembali atau dapat terubah menjadi kompos.
  • Pada tahun 2025, minimal 25% dari plastik yang kami gunakan terbuat dari plastik daur ulang

Untuk mencapai target ini, kami menerapkan 3 kerangka kerja, yakni ‘Less Plastics/mengurangi plastik’, ‘Better Plastic/Plastik yang lebih baik’ dan ‘No Plastics/Tanpa plastik’.

Mengurangi Plastik

Dalam kerangka kerja ‘less plastics/mengurangi plastik’, kami terus menerus mengembangkan penggunaan kemasan plastik secara optimal, misalnya dengan mengurangi berat plastik yang digunakan, namun tetap bisa berfungsi seperti kemasan yang seharusnya, hal ini untuk meminimalkan dampak lingkungan.

Produk-produk kami yang lain telah mengurangi penggunaan plastik untuk kemasannya, antara lain:

BrandUpaya
RinsoMengoptimalkan kemasan sachet Rinso, dengan hasil penurunan sebanyak 120-ton jumlah plastik pada tahun 2018. Secara keseluruhan, kemasan Rinso telah mengurangi penggunaan plastik sebesar 13% / ton produk yang diproduksi (2016-2018) dengan menggunakan pendekatan teknologi material serta optimasi ukuran kemasan. Menggunakan teknologi Chemical Foam Agent untuk botol Rinso Cair, sehingga dapat mengurangi penggunaan plastik sebanyak 2 ton/tahun (berdasarkan data volume penjualan setahun penuh di tahun 2018).
SunsilkMengubah bentuk botol dan tutupnya sehingga dapat mengurangi berat, yang pada akhirnya dapat mengurangi penggunaan plastik sebanyak 582 ton/tahun (2016).
LuxMengubah bentuk botol dan tutupnya, sehingga menggunakan plastik 55% lebih sedikit dari desain kemasan sebelumnya (2013).
Clear ShampooMengubah bentuk botol dan tutupnya, serta menggunakan plastik yang lebih ringan dibandingkan desain sebelumnya, sehingga dapat mengurangi penggunaan plastik sebanyak 60 ton/tahun (2018).
Rexona/ Dove roll onMengoptimalkan berat salah satu komponennya, sehingga dapat mengurangi plastik sebesar 85 ton/tahun (2018).
Pond’s MoisturizerMengubah bentuk kemasannya, sehingga bisa menurunkan penggunaan plastik sebanyak 36 ton/tahun (2016).
Molto,Sunlight, SuperpellMengurangi ketebalan kemasan sachet dan kemasan 450ml – 900ml sehingga bisa menurunkan pemakaian plastik sebesar 355 ton /tahun (2018).
Wipol & Molto sachet 10mlMenghilangkan kantong lanjutan pada kemasan sachet, sehingga bisa mengurangi 34,1-ton plastik/tahun.


Ke depannya, kami telah merencanakan upaya lain sebagai contoh:

  • Mengubah bentuk kemasan, baik wadah maupun tutupnya.
  • Mengoptimalkan ukuran kemasan (ketebalan, ketinggian), sehingga hanya menggunakan plastik sesuai yang diperlukan.
  • Menggunakan teknologi, semacam foaming, untuk mengurangi berat suatu kemasan.

Plastik yang Lebih Baik

Kerangka kerja yang kedua, yakni ‘better plastics’, artinya, kami terus menerus mengembangkan kemasan plastik yang kami pakai agar dapat didaur ulang dan juga menggunakan materi plastik daur ulang dalam kemasan produk-produk kami.

Kami memiliki roadmap yang jelas untuk kedua hal di atas, baik untuk kemasan jenis rigid plastic maupun flexible plastic (mis: sachet, pouch).

Tanpa Plastik

  • Dalam kerangka kerja ‘no plastic’, aspirasi kami adalah menghadirkan produk-produk ke konsumen tanpa menggunakan kemasan plastik. Misalnya memakai materi alternatif atau menggunakan bisnis model yang berbeda seperti kemasan tahan lama yang dapat terus diisi ulang, atau refill station.
  • Saat ini, Unilever secara global telah melakukan beberapa uji coba untuk kemasan isi ulang yang dimulai di UK; dan refill station dimulai di Filipina.
  • Di Indonesia, kami sedang melakukan penjajakan dengan beberapa mitra bisnis yang memungkinkan kami untuk bisa merealisasikan model bisnis lain.
  • Skema refill station memang merupakan salah satu alternatif yang banyak didengungkan oleh berbagai pihak sebagai ganti dari penggunaan kemasan plastik. Penerapan refill station membutuhkan perencanaan yang sangat matang dan uji coba berulang kali untuk memastikan bahwa model ini dapat dilakukan dalam skala besar.

Pada akhirnya, dalam upaya mengurangi plastik, kami tetap harus memastikan bahwa kualitas produk ketika digunakan oleh konsumen tidak mengalami penurunan akibat tidak terlindungi oleh kemasan plastik.

Kerangka kerja less plastic, better plastics dan no plastics merupakan upaya kami untuk lebih bijak plastik di bagian hulu/ saat kami merancang produk dan kemasan.

II.    Rantai Tengah – Edukasi dan Pengumpulan

Di rantai selanjutnya, di bagian tengah, yaitu saat produk kami dimanfaatkan oleh konsumen, kami juga melakukan upaya untuk mengurangi dampak sampah kemasan plastik setelah penggunaan produk, antara lain:

  • Melakukan edukasi mengenai bijak menggunakan plastik melalui program-program sekolah kami di 12.000 sekolah.
  • Melakukan edukasi pemilahan sampah di level rumah tangga sejak 2001, melalui program Green and Clean yang dimulai di Surabaya pada tahun 2001, dan direplikasi ke 37 kota/kabupaten di 2018.

Sejak tahun 2008, program ini ditingkatkan dengan mengenalkan program bank sampah berbasiskomunitas. Hingga saat ini sejumlah 2.816-unit bank sampah telah kami bangun di seluruh Indonesia dan telah mengurangi sebanyak 7.779-ton sampah non-organik.

Ke depannya, kami berencana melanjutkan pengembangan program Bank Sampah di Indonesia, dengan berfokus pada pengembangan Bank Sampah induk, Bank Sampah sektoral, dan digitalisasi Bank Sampah.

Kami juga telah menginisiasi 84 tempat sampah khusus untuk sampah kemasan fleksibel (77 di Jawa Timur dekat dengan pabrik CreaSolv®, dan 7 lagi di luar Jawa) untuk memastikan terlaksananya ekonomi sirkular.

III.    Hilir

Di rantai paling ujung (hilir) atau downstream, yaitu rantai saat kemasan produk kami dibuang, kami telah melakukan investasi besar dalam mengatasi masalah sampah kemasan plastik, yakni:

  • Mengembangkan model bisnis baru yang mendukung ekonomi sirkular, yaitu pemanfaatan kembali kemasan yang sudah dipakai menjadi bahan kemasan baru. Tidak menjadi sampah, sebaliknya menjadi sumber bahan baku. Salah satunya melalui inovasi Teknologi CreaSolv® – teknologi pertama di dunia yang bisa mendaur ulang sampah kemasan plastik yang berlapis-lapis (sachet dan pouch) menjadi kemasan yang baru.

Dalam konsep ekonomi sirkular, sampah kemasan plastik akan terus didaur ulang menjadi kemasan lagi, dan tidak berakhir di TPA ataupun alam.

Dalam skala komersil nanti, teknologi ini memiliki potensi mengurangi dampak CO2 yang dihasilkan oleh setiap 7.800-ton per tahun di tiap unit operasinya, setara dengan 8.200-ton plastik fleksibel.

  • Bekerja sama dengan pemerintah dan industri untuk mendorong penerapan konsep ekonomi sirkular untuk kemasan plastik, salah satunya melalui program Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE).
Telusuri lebih lanjut topik-topik ini
Back to top

BERHUBUNGAN DENGAN KAMI

Kami selalu mencari cara untuk berhubungan dengan mereka yang memiliki minat yang sama terhadap masa depan yang berkelanjutan.

KONTAK KAMI

Berhubungan dengan Unilever dan tim spesialis atau menemukan kontak di seluruh dunia.

Kontak Kami