Sustainable Agriculture

Sustainable Agriculture, Strategi untuk Menjamin Keberlangsungan Sumber Daya Pertanian.

Jakarta, 14 September 2012– Unilever menerapkan prinsip sustainability dalam setiap aktifitas bisnisnya. Salah satu bentuknya adalah sustainable sourcing, yaitu Unilever menggunakan bahan baku yang berasal dari sustainable agriculture maupun sumber-sumber lain yang sustainable. Demikian ungkap Sancoyo Antarikso, External Relations Director dan Corporate Secretary Unilever Indonesia dalam diskusi mengenai pertanian berkelanjutan. “Saat ini kami tengah fokus pada penerapan sustainable sourcing untuk bahan baku yang berasal dari pertanian karena kami sadar bahwa separuh bahan baku mentah yang kami gunakan berasal dari sektor pertanian dan kehutanan,” tambah Sancoyo.

“Ada banyak faktor yang mempengaruhi produksi pertanian dunia saat ini. Selain karena pertumbuhan populasi, ancaman perubahan iklim, dan berkurangnya ketersediaan air, faktor penurunan luas lahan pertanian juga turut andil mempengaruhi situasi ini. Sudah saatnya kita bersama-sama menerapkan kebijakan yang mengadopsi prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan,” kata Sancoyo.

“Demi menjamin bahan baku didapatkan dari sumber yang berkelanjutan, selain menggunakan sistem sertifikasi sustainable dari pihak luar, Unilever juga mengembangkan Unilever’s Sustainable Agriculture Code (SAC) sebagai sarana self-verification bagi para mitra supplier kami. Kode ini dapat diaplikasikan bagi semua jenis bahan baku pertanian yang kami gunakan,” tambah Sancoyo.

Pertanian berkelanjutan adalah bagian penting dari Unilever Sustainable Living Plan, yang merupakan model bisnis yang dikembangkan Unilever untuk menanggapi berbagai tantangan utama dalam aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Unilever Sustainable Living Plan dijalankan oleh Unilever dengan cara menumbuhkan bisnis sambil mengurangi dampak terhadap lingkungan, serta menciptakan dampak positif terhadap masyarakat.

MartinHuxtable selakuProcurement Director Ingredients & Supplier DevelopmentUnilevermengungkapkan, “Secara prinsip, sustainable agriculture atau pertanian berkelanjutan dapat dijalankan oleh berbagai jenis usaha. Unilever sebagai perusahaan consumer goods bersama-sama dengan para mitra bisnisnya secara global, termasuk di Indonesia, telah melakukan kebijakan pertanian berkelanjutan dalam setiap lini usahanya.” Unilever mentargetkan bahwa pada tahun 2020, pasokan bahan baku mentah 100% berasal dari sumber yang berkelanjutan. Dalam mencapai ini, petani tidak lagi hanya berperan sebagai obyek, tetapi menjadi subyek dan penentu utama keberhasilan usaha tani yang dilakukannya. Hal ini tertuang dalam Unilever’s Sustainable Agriculture Code (SAC) yang mencakup 11 indikator sosial, ekonomi dan lingkungan.

Di Indonesia, salah satu upaya yang telah dilakukan Unilever, melalui Yayasan Unilever Indonesia adalah Program Pemberdayaan Petani Kedelai Hitam yang dimulai lebih dari 10 tahun lalu. Unilever bermitra dengan para petani dalam pemberian benih terbaik, bimbingan budidaya tanaman, dan pendampingan. Kemitraan ini diperkuat dengan dukungan dari institusi pendidikan, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Program yang berjalan di wilayah Yogyakarta dan Jawa Timur ini merupakan bentuk nyata Unilever Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup petani melalui peningkatan produktivitas sesuai dengan prinsip-prinsip berkelanjutan.

Program kemitraan ini telah meraih berbagai apresiasi baik dalam maupun luar negeri. Diantaranya adalah: finalis Stevie International Business Award 2010 untuk program CSR terbaik dan Indonesia MDGs Award 2011 untuk Program Pemberdayaan Perempuan yang merupakan bagian dari Program Petani Kedele Hitam, serta CMO Asia’s Best CSR Practices Award 2012 untuk Program Petani Kedele Hitam dalam kategori pengentasan kemiskinan.

Melihat hasil positif dari kegiatan pertanian berkelanjutan yang sudah diterapkan, Unilever Indonesia memfasilitasi diskusi aktif diantara para pemangku kepentingan, termasuk komunitas pengusaha, akademisi dan pembuat kebijakan untuk melirik pertanian berkelanjutan sebagai salah satu pendekatan dalam menjawab tantangan ketahanan pangan dan ketersediaan bahan baku.

Untuk mendapatkan perspektif lengkap tentang fungsi strategis pertanian berkelanjutan, hari ini Unilever Indonesia menggelar sebuah diskusi. Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara: Martin Huxtable, sebagai Procurement Director Ingredients & Supplier DevelopmentUnilever,Prof. Dr. Bustanul Arifin, sebagai pakar agro-ekonomi, Bp. Sabastian Saragih, sebagai anggota Koperasi Circle Indonesia dan penggiat tanaman organik, serta Prof. Mary Astuti, sebagai Guru Besar Pertanian dari Universitas Gadjahmada, Yogyakarta.

Pada kesempatan yang sama, Unilever Indonesia bersama Penebar Swadaya dan Universitas Gadjah Mada meluncurkan ‘Buku Petunjuk Praktis Kedelai Hitam’ kepada masyarakat luas untuk menginspirasi lebih banyak lagi orang mengenai pertanian berkelanjutan.

“Berbentuk semi-komik, peluncuran buku saku ini merupakan bagian dari program kemitraan Unilever Indonesia bagi para petani yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang budidaya kedelai hitam yang baik dan benar, dan mudah dipahami oleh petani,” tutup Sancoyo Antarikso.

Indonesia

PT Unilever Indonesia

Graha Unilever

Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 15

Jakarta 12930

+62 21 5299 6773 / 6818

info.uli@unilever.com

Back to top