Berbuka Bersama Bango untuk Simak Kekayaan Semur Nusantara

Bango bertekad melestarikan Semur sebagai bagian dari warisan kuliner Nusantara, salah satunya dengan membuka wawasan masyarakat terhadap keanekargaman Semur di berbagai wilayah Indonesia.

Jakarta, 11 Agustus 2011 – Bertempat di sebuah restoran di bilangan Senopati, Jakarta Selatan, Kecap Bango produksi PT Unilever Indonesia Tbk. mengundang rekan media dan perwakilan komunitas kuliner online untuk berbuka bersama di dalam suasana dan tema yang sangat istimewa. Bertemakan “Kenduri Semur Nusantara – Berbuka Bersama Kelezatan dan Keberagaman Semur Indonesia”, Bango mengangkat berbagai ragam kisah Semur, hidangan legendaris kebanggaan bangsa yang telah ratusan tahun menghangatkan lidah dan hati keluarga Indonesia.

Ditinjau dari nilai historis, Semur merupakan kuliner Nusantara yang memiliki keistimewaan tersendiri di antara kuliner Indonesia lainnya karena ia lahir dari perpaduan berbagai pengaruh budaya sebelum akhirnya menjadi hidangan khas Indonesia.Tidak banyak yang mengetahui bahwa Semur ternyata merupakan hasil akulturasi kuliner antara Indonesia dengan berbagai bangsa pendatang, seperti India dan Cina, danpada akhirnya Semur yang kita kenal sekarang adalah hidangan yang dikembangkan dengan teknik memasak yang dipakai dalam dapur Indis, kaum peranakan Eropa – yang menggunakan kecap manis sebagai identitas kuncinya.

Keunikan Semur ternyata lebih dari sekedar nilai historisnya. Persebarannya di berbagai penjuru Nusantara juga jelas terlihat, menjadikannya sebagai hidangan favorit jutaan keluarga Indonesia.Bahan, citarasa dan cara pengolahan Semur beradaptasi dengan karakteristik dan selera penduduk daerah masing-masing dan kemudian melebur sebagai bagian dari budaya mereka, tanpa meninggalkan pakem bumbu dan teknik mengolah Semur yang mendasar. Keberagaman inisemakin mengukuhkan Semur sebagai kekayaan bangsa dan warisan budaya yang tak ternilai.

Berkaitan dengan hal tersebut, Agus Nugraha, Senior Brand Manager Bango menyampaikan dalam sambutannya, “Dengan berbagai keunikan dan keistimewaannya, Bango memandang Semur sebagai warisan kuliner Nusantara yang patut kita lestarikan. Sayangnya, mayoritas masyarakat kita ternyata belum mengenal dengan baik ragam Semur dari berbagai wilayah Nusantara. Pemahaman terhadap citarasa, asal-usul, maupun tradisi penyajian yang mereka miliki masih terbatas pada Semur dari daerah asal masing-masing. Tidak hanya itu, ternyata terdapat pula kisah-kisah yang menyertai Semur dari daerah masing-masing hingga hidangan tersebut dapat menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat, yang pastinya sangat menarik dan perlu untuk diangkat.”

JJ Rizal, seorang sejarawan yang turut hadir di acara ini menyetujui hal tersebut, “Perlu ada koreksi yang cukup mendasar di kalangan masyarakat mengenai cara kita memandang sebuah hidangan. Kita perlu sadar bahwa apresiasi terhadap kuliner lebih dari sekedar kekaguman kita terhadap rasa. Sejatinya diperlukan pemahaman yang baik terhadap latar belakang terciptanya hidangan tersebut; entah itu dari konteks sejarah, budaya, latar belakang, cara penyajian, dan lain-lain. Dengan demikian pengalaman kuliner akan menjadi lebih kaya dan bermakna. Contoh konkretnya adalah apa yang kita lakukan hari ini. Saya optimis, setelah kita mengetahui sejarah dan warna-warni keberadaan Semur di Indonesia, dengan sendirinya akan tumbuh kecintaan dan kebanggaan terhadap hidangan ini.”

Untuk menggambarkan keberagaman Semur di Indonesia, Bango membawa serta tiga pakar Semur dari tiga wilayah Nusantara. Mereka berbagi kisah dan pengetahuan mengenaicitarasa, cara penyajian, maupun “ritual” yang unik dalam menikmati Semur, sesuai dengan kebiasaan dan konteks budaya daerah masing-masing.

Idham Mirwan, seorang ahli kuliner dari Palembang memiliki cerita yang unik tentang Malbi, nama kondang Semur ala Palembang, “Malbi lahir dari perpaduan budaya Arab, India, Cina. Hidangan ini kemudian menjadi tradisi di Palembang karena sampai sekarang hampir mayoritas penduduknya memang keturunan dari tiga bangsa tersebut. Dulu Malbi menjadi sajian utama di acara besar para tokoh terpandang di Palembang karena menggunakan bahan dasar daging sapi – sesuatu yang dianggap mewah pada zaman itu. Namun kini Malbi sering kita temui di berbagai acara yang kental akan adat Palembang, seperti saat Idul Fitri dan pesta pernikahan”. Menurutnya, Malbi memiliki kekhasan dalam hal rasa, yaitu rasa asam yang cukup dominan karena penggunaan asam jawa. Selain itu, sentuhan kayu manis dan tentunya kecap manis juga semakin memperkaya rasa Malbi.

Lain ceritanya dengan Semur asal Samarinda, yang dikisahkan oleh seorang pengusaha kuliner asli Kalimantan Timur, Leddy Aji Susanti, “Semur di daerah saya sering juga disebut Semur Goreng Samarinda karena tampilannya mirip dengan sambal goreng hati yang agak kering.Di Samarinda, Semur biasanya menyertai nasi kuning, yang sudah menjadi menu sarapan yang sangat membudaya. Selain Semur, biasanya dilengkapi juga dengan soun, serundeng kelapa, telur pindang dan ayam masak merah atau ayam masak Habang. Akhirnya sajian ini menjadi menu sarapan khas Samarinda”. Susan menambahkan bahwa keunikan citarasa Semur Samarinda terletak pada penggunaan pala yang cukup banyak. Selain itu,kunci kelezatannya terletak pada ketepatan penggunaan kecap: jangan terlalu banyak, namun jangan juga terlalu sedikit, biasanya “intuisi” ini didapatkan seiring dengan pengalaman.

Semur asal kota tuan rumah, Betawi, juga punya kisah tersendiri. “Semur khas Betawi biasa kami sebut dengan Semur Kerbau Andilan, karena pada kesempatan ini budaya kebersamaan atau kolektif sangat tampak saat memotong kerbau andilan, yaitu kerbau yang dibeli bersama oleh beberapa warga dalam satu kampung.Setelah kerbaudibeli dandisembelih, dagingnyajuga diolah menjadiSemur bersama-sama,” ujar Indra Sutisna, seorang ahli budaya Betawi.Cara pembagian dan penyajiannya juga istimewa.Biasanya, sore menjelang takbiran atau setelah shalat Idul Fitri,satukeluarga mengirim rantangan kekeluargasaudaranya yang lebih tua, sedang anak sulung mengantar rantangan kepada kedua orangtuanya. Rantangan sekurangnya berisi semur kerbau andil, ketupat, tape uli, dan kue goreng kembang goyang, dan akar kelapa.

”Melalui acara ini, Bango berharap pengenalan dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap Semur mampu mendorong kecintaan masyarakat terhadap hidangan ini sehingga mereka akan lebih sering menghidangkan Semur di rumah sebagai bentuk dukungan atas pelestarian Semur secara turun-temurun di keluarga Indonesia,” tutup Agus.

PT Unilever Indonesia Tbk

Graha Unilever

Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 15

Jakarta 12930

+62 21 5299 6773

media-relations.indonesia@unilever.com

Back to top