1.000 Ibu PKK Menjadi Kader Gerakan 21 Hari

Lifebuoy mengajak masyarakat melakukan kebiasaan sehat selama 21 hari tanpa putus.

Lembang, 29 Juni 2011 – PT Unilever Indonesia Tbk., melalui brand sabun kesehatannya Lifebuoy, mengajak Ibu PKK seluruh Indonesia menjadi kader Gerakan 21 Hari untuk membentuk kebiasaan sehat. Sosialisasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) serta mekanisme Gerakan 21 Hari dilakukan dalam seminar di perayaan Hari Keluarga Tingkat Nasional 2011.

Hari keluarga secara nasional diperingati sebagai upaya untuk mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia, betapa pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan dalam membangun bangsa dan negara.

Seminar Nasional yang digelar Rabu (29/6) di Lembang, Jawa Barat tersebut mengangkat tema “Gerakan 21 Hari untuk Membentuk Kebiasaan Sehat bagi Keluarga Indonesia”. Acara ini hasil kerja sama antara TP PKK Pusat, BKKBN, dan PT Unilever Indonesia Tbk. Sedangkan peserta Seminar adalah 1.000 kader PKK perwakilan dari 33 provinsi dengan sebagian diantaranya adalah para Ibu Gubernur, Ibu Bupati, Ibu Walikota, dan Ibu Camat yang menjadi Tim Penggerak PKK di daerahnya masing-masing.

Acara Seminar Nasional dibuka oleh Ketua Umum TP PKK Ny. Vita Gamawan Fauzi, yang juga menjadi keynote speaker. Pidato sambutan disampaikan oleh Ny. Netty Prasetyani Heryawan, Ketua TP PKK Jawa Barat, dan Eka Sugiarto, Brand Building Director Skin Cleansing, PT Unilever Indonesia Tbk. Sedangkan narasumber acara tersebut adalah dr. H. Tb. Rachmat Sentika, Sp.A., MARS, Pakar Kesehatan; Ny. Susi Soebekti, Ketua IV TP PKK Pusat; dr. Ade Nirmala Chandra, Professional Marketing Manager Lifebuoy, PT Unilever Indonesia Tbk.; dan Dik Doank sebagai Brand Ambassador Lifebuoy.

Sejak 2004 hingga sekarang, Lifebuoy konsisten untuk terus menkampanyekan PHBS dan CTPS karena masih rendahnya kebiasaan masyarakat Indonesia untuk mencuci tangan dengan benar yang berdampak pada rentannya penularan kuman melalui tangan. Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2010 menunjukkan persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS dengan kategori baik secara rata-rata nasional hanya 35,68%. Sedangkan persentase penduduk yang berperilaku benar dalam CTPS secara rata-rata nasional hanya 24,48%.

Rendahnya budaya CTPS dapat mengakibatkan minimal 10 masalah kesehatan yang disebabkan oleh kuman, antara lain diare, yang juga disebabkan oleh bakteri Escherichia coli atau E. coli, yang kini memiliki strain baru yang berakibat mematikan seperti yang sedang terjadi di Eropa. Kementerian Kesehatan RI mengatakan PHBS seperti memasak makanan secara matang dan hanya mengkonsumsi makanan yang bersih dan sehat, ditambah melakukan CTPS setiap sebelum memasak dan sebelum makan dapat mecegah terkena penularan E. coli strain baru. WHO juga merekomendasikan hal yang sama.

dr. H. Tb. Rachmat Sentika menjelaskan bahwa kebiasaan CTPS dapat menjadi perlindungan minimal 10 masalah kesehatan yang disebabkan oleh kuman diantaranya diare. “CTPS merupakan upaya tepat memutus mata rantai penyebaran kuman dan bakteri, termasuk bakteri E. coli strain baru,” kata Rachmat.

Pencegahan penyakit menular melalui perilaku preventif seperti CTPS harus dibiasakan sejak dini, sebagai pendidik utama di keluarga, ibu memiliki peran penting untuk menanamkan budaya CTPS kepada anak-anaknya agar terus tertanam hingga mereka dewasa. Kader PKK yang saat ini beranggotakan lebih dari dua juta orang di seluruh Indonesia, yang terdiri dari kaum ibu, merupakan garda terdepan dalam menyebarkan budaya PHBS dan CTPS di keluarga, hal ini sesuai dengan visi Lifebuoy untuk turut serta dalam upaya meningkatkan kebersihan dan kesehatan 237 juta rakyat Indonesia melalui pendidikan PHBS sejak dini dalam keluarga.

Dalam pidato sambutannya Eka Sugiarto mengatakan keluarga merupakan inti dari suatu negara. Keluarga merupakan satuan terkecil sebagai inti dari suatu sistem sosial yang ada di masyarakat. “Semua perubahan dan tumbuhnya budaya baik selalu dimulai dari keluarga. Keluarga yang memiliki kebiasaan sehat berupa PHBS dan CTPS akan menghasilkan masyarakat yang sehat,” kata Eka.

Adanya sinergi dan pandangan yang sama untuk memberdayakan keluarga di bidang kesehatan mendorong PT Unilever Indonesia Tbk. dan TP PKK Pusat bekerja sama untuk menumbuhkan kebiasaan sehat berupa PHBS dan CTPS melalui program terbaru Lifebuoy yaitu Gerakan 21 Hari.

Gerakan 21 Hari yang diselenggarakan Lifebuoy merupakan program untuk melakukan kebiasaan sehat di 5 saat penting selama 21 hari berturut-turut tanpa putus agar kebiasaan ini menjadi perilaku sehat sehari-hari. Kebiasaan sehat di 5 saat penting tersebut adalah mandi menggunakan sabun, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebelum makan pagi, CTPS sebelum makan siang, CTPS sebelum makan malam, dan CTPS setelah dari toilet.

Dalam Gerakan 21 Hari ini, keluarga terutama kaum ibu diharapkan dapat mengajarkan anak-anaknya untuk melakukan kebiasaan sehat di 5 saat penting selama 21 hari berturut-turut tanpa putus. Gerakan 21 Hari merujuk dari berbagai pendapat dan penelitian pakar perubahan perilaku salah satunya, Dr. Maxwell Maltz dalam bukunya berjudul Psyco-Cybernetics, bahwa untuk membentuk suatu kebiasaan baru pada seseorang dibutuhkan waktu minimal 21 hari untuk melakukan kebiasaan baru tersebut secara terus-menerus tanpa putus.

Menurut Susi Soebekti, ibu memiliki peran penting dalam membudayakan kebiasaan sehat berupa PHBS dan CTPS di keluarga. “Semakin dini ibu mengajarkan kebiasaan sehat kepada anak-anaknya, perilaku tersebut akan semakin tertanam di benak anak-anak hingga mereka dewasa. Dalam hal ini, Ibu-ibu PKK menjadi kader yang efektif untuk mensosialisasikan Gerakan 21 Hari ini,” kata dia.

Efektifitas gerakan PKK telah mendapat pengakuan secara internasional yang dibuktikan dengan penghargaan dari badan dunia seperti WHO, UNICEF, UNESCO dan Asian Management Programme. Strategi PKK dalam upaya menjangkau sebanyak mungkin keluarga dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, hingga tingkat terkecil. Dengan program Gerakan 21 Hari, para kader PKK akan lebih mudah untuk mengajak keluarga dan lingkungannya dalam membudayakan kebiasaan sehat ini.

Eka Sugiarto menambahkan Gerakan 21 Hari untuk membentuk kebiasaan sehat merupakan wujud komitmen dan misi sosial Lifebuoy untuk turut berpartisipasi dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat. "Lifebuoy merupakan produk PT Unilever Indonesia Tbk. yang dapat melindungi konsumen dalam mencegah penyakit. Namun pada akhirnya hal itu tergantung pada kemauan setiap individu dan keluarga untuk mau memulai kebiasaan sehat, seperti kebiasaan sehat di lima saat penting," kata Eka.

Di penghujung acara, Dik Doank mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya dimulai oleh kaum ibu untuk turut mensukseskan Gerakan 21 Hari untuk membentuk kebiasaan sehat ini. “Implementasi Gerakan 21 Hari untuk membentuk kebiasaan sehat ini nantinya akan dilakukan dengan berbagai kegiatan fun, edukatif, dan menarik bagi anak-anak, sehingga proses pembentukan kebiasaan sehat menjadi kegiatan yang disukai anak dan keluarga, ini cara yang efektif bagi orang tua untuk membentuk kebiasaan sehat anak-anaknya,” ujar Dik Doank.

PT Unilever Indonesia Tbk

Graha Unilever

Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 15

Jakarta 12930

+62 21 5299 6773

media-relations.indonesia@unilever.com

Back to top