Limbah & Kemasan

Plastik telah menjadi bagian yang sulit untuk dipisahkan dari kehidupan kita karena dapat melindungi sebuah produk dan membuatnya mudah untuk dikeluarkan atau ditutup kembali setelah pengunaan. Akan tetapi, jika tidak dikelola dengan baik maka plastik juga dapat memunculkan masalah lain yang sangat besar dan terus bertambah, yaitu masalah limbah plastik. Sebab, limbah plastik mengotori lingkungan kita, laut kita, dan juga membunuh kehidupan bawah laut.

Menurut World Economic Forum, limbah kemasan plastik mewakili kerugian sebesar $80 - $120 miliar untuk ekonomi global setiap tahunnya. Diperlukan pendekatan yang lebih sirkular yang mana kita tidak hanya menggunakan lebih sedikit kemasan plastik, tetapi juga merancang kemasan plastik yang dapat digunakan kembali, didaur ulang atau dikompos.

Dalam ekonomi sirkular, bahan-bahan seperti plastik akan diperbarui daripada hanya digunakan beberapa kali dan dibuang begitu saja. Hal ini menjadikan nilai dari sebuah bahan, termasuk plastik, tidak akan hilang dengan dibuang. Selain itu, penggunaan bahan-bahan secara sirkular juga membuat biaya lebih rendah dan menghasilkan sedikit limbah.

Upaya Kami

Kami selalui berupaya untuk meminimalisir limbah kami mulai dari hulu, tengah, sampai hilir dari rantai bisnis kami. Upaya ini sejalan dengan strategi Unilever Sustainable Living Plan kami. Ekonomi sirkular merupakan pendekatan yang sedang kami jalankan di mana kami mengelola semua bahan dan limbah pada setiap siklus bisnisnya secara bertanggung jawab seraya mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan dari dalam operasi bisnis kami. Cari tahu lebih lanjut mengenai komitmen kami dalam mengatasi masalah sampah plastik di sini

Program Green and Clean dan Bank Sampah

Pemahaman masyarakat Indonesia akan pentingnya pemanfaatan sampah masih perlu ditingkatkan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena karakteristik geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Mulai dari barang rusak, benda tidak terpakai, kemasan produk, hingga sisa makanan terbuang begitu saja. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), jumlah sampah yang dihasilkan pada tahun 2017 mencapai 65,8 juta ton dengan 40% diantaranya adalah sampah anorganik. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi 70,8 juta ton pada tahun 2025. Sampah yang tidak dikelola dengan baik berakibat buruk bagi kesehatan manusia dan merusak lingkungan. Pemerintah dalam hal ini telah menetapkan target untuk mengurangi volume sampah sebesar 30% atau setara dengan 20,9 juta ton pada tahun 2025, yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017.

Bermula di Jambangan, Surabaya

Penyelesaian masalah sampah membutuhkan peran aktif seluruh elemen yang ada di Indonesia. Pada tahun 2001, Unilever Indonesia Foundation (UIF) mendirikan sebuah program bernama Program Brantas Bersih, yang mana UIF secara aktif melakukan edukasi kepada masyarakat Indonesia tentang pentingnya memilah sampah. Program yang bermula di daerah Jambangan, Surabaya ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas air Sungai Brantas melalui peningkatan kesadaran pada komunitas di Jambangan.

UIF mendorong pembentukan kader lingkungan untuk memberikan pelatihan di komunitas tersebut. Mulai dari pelatihan pemilahan dan pengolahan sampah, pembibitan tanaman, hingga penghijauan pekarangan. Sampah organik yang dikumpulkan akan diproses menjadi kompos sebagai bahan pupuk penyubur tanaman penghijauan, sedangkan sampah kering didaur ulang untuk menjadi berbagai jenis keterampilan tangan. Program ini berjalan secara konsisten dan berbuah hasil di tahun 2006 yang mana Jambangan menjadi bebas sampah dan pada tahun yang sama Surabaya mendapatkan penghargaan Adipura.

Menyebarluaskan Inspirasi Bersama Masyarakat

Keberhasilan di Jambangan memberikan pelajaran untuk kami bahwa komunitas memiliki peran yang sangat besar untuk mengelola sampahnya sendiri. UIF kemudian memperluas cakupan program lingkungan berbasis komunitas ini ke wilayah lain di Indonesia. Program ini pun diberi nama Green and Clean. Dalam pelaksanaanya, UIF bekerja sama dengan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan tentunya peran serta masyarakat di berbagai kota besar di Indonesia untuk mengelola sampah dari sumbernya, yaitu dari rumah tangga.

Kami berupaya mengoptimalkan pengelolaan sampah berbasis komunitas dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas daur ulang dikalangan masyarakat dan mengurangi menumpuknya sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kami pun mengembangkan beberapa jenis program terkait pengumpulan sampah. Tahun 2008, kami mulai mengadopsi pendekatan Bank Sampah kemudian memperkuat sistemnya dan menyebarkannya ke berbagai daerah di Indonesia. Melalui program ini, kami berupaya menciptakan berbagai manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Keberhasilan dari program ini terlihat dari jumlah unit bank sampah, jumlah masyarakat yang terlibat, dan jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan dan dijual. Selain itu, kami juga turut menghasilkan sebuah buku tentang sistem Bank Sampah yang dilengkapi dengan kisah-kisah inspiratif dari 10 Bank Sampah yang telah diberdayakan bersama kami. Buku ini kami luncurkan untuk dapat diakses secara luas oleh masyarakat.

Buku Panduan Sistem Bank Sampah & 10 Kisah Sukses (PDF | 10MB)

Pada tahun 2017, kami melakukan re-launching di 18 kota besar, untuk memperkuat pengelolaan bank sampah di tengah masyarakat. Di bank sampah binaan, masyarakat secara mandiri mengumpulkan, memisahkan dan mendaur ulang sampah dari sekitarnya dan mengubahnya menjadi uang tabungan. Program ini mempromosikan pengumpulan sampah yang berkelanjutan dengan mendirikan bank sampah komunitas dan bermitra dengan para pemulung untuk ikut serta membentuk bank sampah tingkat sektor dan kota.

Kemudian di tahun 2018, kami memulai pendekatan baru dengan melibatkan sekolah untuk secara aktif berpartisipasi dalam mendirikan bank sampah. Para guru dan siswa sekolah didorong untuk menjadi anggota bank sampah. Berkat terobosan ini, kami menghasilkan pertumbuhan anggota bank sampah yang signifikan hingga 24,76%.

Sepanjang tahun 2018, kami juga telah mengimplementasikan program ini ke lebih banyak kota dengan menjangkau 37 kota di 12 provinsi di seluruh Indonesia. Selain itu, kami juga berhasil meningkatkan pertumbuhan jumlah bank sampah sebesar 7,69% dibanding tahun sebelumnya, mengurangi limbah sampah anorganik sebesar 27%, dan meningkatkan pertumbuhan total turnover bank sampah sebesar 30,07%.

Hingga saat ini, terdapat 2.816 Bank Sampah binaan Unilever di seluruh Indonesia yang telah membantu mengurangi 7.779 ton beban sampah ke TPA di tahun 2018. Di Jakarta sendiri sudah ada sekitar 394 Bank Sampah yang didampingi oleh Unilever dengan total sampah yang dikelola sebesar 1.326 ton di tahun 2018.

Daftar Bank Sampah Unilever Indonesia 2019 (PDF | 2MB)

Teknologi CreaSolv®

Penggunaan kemasan plastik fleksibel, yang terdiri dari sachet dan pouch, dapat menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Sampah kemasan plastik fleksibel pada umumnya terdiri dari beberapa lapisan material, sehingga sulit untuk di daur ulang. Hal ini berakibat pada banyaknya dua jenis ini yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan juga mencemari lingkungan.

Menyadari hal tersebut, Unilever telah memulai upaya untuk mendaur ulang sampah kemasan di rantai nilai konsumen, mulai dari hulu hingga ke hilir. Di hulu, kami bekerja untuk mengumpulkan sampah kemasan fleksibel dengan bekerja sama dengan konsumen dan komunitas, sedangkan di hilir, kami mulai menerapkan terobosan Teknologi CreaSolv® Process untuk mendaur ulang sampah plastik fleksibel menjadi bahan baku

Sejak tahun 2011, Unilever telah bekerja sama dengan Fraunhofer Institute IVV untuk Teknik Proses dan Pengemasan IVV dalam menciptakan teknologi guna mendaur ulang limbah kemasan fleksibel. Pada bulan Mei tahun 2017, Teknologi CreaSolv® Process secara resmi diperkenalkan kepada public dan didukung oleh Kementerian LHK.

Pada tahap awal yakni pertengahan tahun 2018 lalu, Teknologi CreaSolv® Process mini scale plant di Sidoarjo, Jawa Timur mulai beroperasi dan mendaur ulang limbah kemasan fleksibel pasca penggunaan konsumen. Pada akhir tahun 2018, lebih dari tiga ton sampah plastik dikumpulkan setiap hari untuk diproses oleh Teknologi CreaSolv® Process. Hal ini menjadikan Teknologi CreaSolv® Process sebagai teknologi pertama sekaligus satu-satunya di dunia dan dianggap sebagai solusi paling efisien dalam penglolaan limbah sachet.

Pada skala komersial, Teknologi CreaSolv® process akan mengurangi emisi karbon dioksida sebanyak seperenam dibandingkan dengan produksi menggunakan bahan baku murni. Dalam setahun dapat mencapai 7.800 ton karbon dioksida, yang setara dengan 8.200 ton plastik fleksibel. Ini adalah langkah pertama menuju inisiatif yang lebih luas untuk menjadikan masyarakat Indonesia yang lebih bertanggung jawab terhadap plastik.

PRAISE Dropping Box

Persoalan pengelolaan sampah khususnya di kota-kota besar masih menjadi tantangan sehingga sudah saatnya seluruh elemen masyarakat saling bekerja sama untuk menjadi bagian dari solusi atas masalah tersebut, salah satunya dimulai dengan memilah sampah. Unilever Indonesia melalui PRAISE (Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment) turut andil untuk mengatasi masalah ini bermitra dengan Waste4Change. PRAISE dan Waste4Change berinisiatif menempatkan 100 unit Dropping Box di berbagai wilayah Jakarta sebagai solusi berupa sistem pengumpulan sampah kemasan yang bertujuan mengedukasi sekaligus membentuk kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah demi mendukung usaha daur ulang sampah kemasan secara berkelanjutan.

Inisiatif Dropping Box menjadi sebuah solusi yang merangkul setiap pemangku kepentingan yang terlibat, yaitu konsumen sebagai elemen terpenting yang dapat langsung memilah dan membuang sampah kemasan di Dropping box yang sudah tersedia, pihak pemerintah, PRAISE, Bank Sampah dan Waste4Change. Di tahun 2018 lalu, Dropping Box juga mendukung kampanye kurang limbah di lokasi perhelatan olahraga terbesar se-Asia yakni Asian Games 2018 di Jakarta.

Dropping Box ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan inisiatif pemilahan, pengangkutan, dan pengelolaan sampah yang sudah ada sebelumnya, yaitu:

  1. Jaminan Pemisahan. Konsumen dapat memisahkan dan membuang limbah kemasan mereka sesuai dengan jenis, yaitu kertas (kemasan karton, kertas, dan kardus) dan non-kertas (botol plastik, kaleng makanan/minuman, botol kaca, kantong plastik dan kantong isi ulang). PRAISE dan Waste4Change memastikan bahwa semua proses pengumpulan, transportasi, dan pengelolaan limbah sama dengan pemisahan dalam dropping box.
  2. Jaminan Pemrosesan. Sampah yang terkumpul ditangani oleh mitra Waste4Change dan secara berkala disampaikan kepada mitra bank sampah yang terjamin.
  3. Jaminan Daur ulang. Limbah yang dapat didaur ulang dipindahkan ke pabrik daur ulang dan residu ditangani oleh mitra Waste4Change, memastikan limbah kemasan yang dikumpulkan tidak berakhir di tempat pembuangan sampah.
  4. Jaminan Edukasi. Inisiatif ini dilengkapi dengan berbagai bentuk media pendidikan, seperti infografis menarik yang melekat pada Dropping Boxes. Program masyarakat berkelanjutan juga dilakukan melalui media massa dan media sosial.

Penggunaan Air

Kami mengukur jejak air kami dalam proses manufaktur di beberapa pabrik yang kami miliki. Pengukuran yang tepat dan pelaporan jejak air kami secara transparan dapat membantu kami menyesuaikan strategi kami, menetapkan target yang ambisius, dan menilai kemajuan kami dalam mencapai target untuk mengurangi jejak air kami pada tahun 2020.

Kami mengandalkan air sebagai komponen penting dalam proses manufaktur, baik sebagai bahan baku maupun sebagai bahan penolong untuk keperluan produksi dan kegiatan domestik. Dari tahun ke tahun, semakin banyak daerah di dunia mengalami kelangkaan air dan banyak masyarakat kekurangan pasokan air bersih. Adanya perubahan iklim juga mengakibatkan sebagian daerah mengalami kekeringan. Selain itu, kelangkaan air juga disebabkan oleh air tanah yang sudah tercemar.

Penggunaan air yang digunakan oleh pabrik-pabrik di Unilever Indonesia secara langsung berasal dari perusahaan pemasok air dari kawasan industri tempat pabrik kami berdiri dan juga pemanfaatan air hujan. Kami juga memiliki insiatif melakukan daur ulang air limbah yang dihasilkan dan digunakan kembali untuk lini produksi lain. Salah satu program utama untuk mengurangi jejak air kami adalah pengurangan glycerine carry over di pabrik produksi Rungkut. Program ini mengurangi 100 kg organik dalam bentuk Chemical Oxygen Demand (COD) pada tahun 2018. Terhitung sejak 2016 kami telah mengurangi 700 kg COD, sehingga mengurangi beban polusi air. Manfaat finansial tercakup dalam program ini, dimana kami menghemat Rp54 juta/tahun untuk biaya pengolahan air limbah.

Selain itu, kami juga memiliki berbagai upaya untuk mengurangi pemakaian air, yaitu:

  1. Penggunaan kembali air dari proses clean-in-place (CIP)
  2. Peningkatan PW pada instalasi pengolahan air limbah
  3. Peningkatan gliserin mentah dan penurunan carry over
  4. Perubahan rencana pemrosesan
  5. Pengendalian blowdown secara otomatis dan Total Dissolved Solids (TDS) untuk boiler
  6. Ozone treatment

Cari tahu selengkapnya mengenai data jejak air kami dalam Sustainability Report (PDF | 21MB) halaman 64

Emisi Gas Rumah Kaca

Emisi yang dihasilkan oleh pabrik kami menjadi fokus utama untuk kami ukur secara teliti. Kami mengukur dampak dari produk kami di seluruh rantai nilai. Mulai dari bahan mentah (kemasan primer, kemasan sekunder, dan bahan-bahan yang digunakan) hingga manufaktur, transportasi, penyimpanan di ritel dan di rumah, dan yang paling penting, penggunaan dan pembuangan konsumen yang menyumbang lebih dari 60% total jejak GRK kami.

Perubahan iklim adalah faktor risiko utama bagi bisnis dan masyarakat pada umumnya. Sebagai contoh, kenaikan suhu dan peristiwa cuaca ekstrem (badai, banjir, kekeringan) dapat secara drastis meningkatkan biaya bahan baku dan pengemasan yang pada gilirannya dapat mempengaruhi keterjangkauan produk kami. Memitigasi perubahan iklim dimulai dengan mengurangi dampak lingkungan kita sendiri, itulah sebabnya kami mengukur jejak GRK kami dan melacak perkembangannya untuk mengurangi separuh dampak GRK kami pada tahun 2030.

Kami telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi emisi GRK di fasilitas kami. Panel surya telah dipasang di pabrik maupun kantor. Pemanas surya juga telah dipasang untuk memasok air panas ke proses produksi. Di Pabrik Personal Care kami, inisiatif ini menghemat energi 6,7 GJ per hari. Upaya lain untuk mengurangi konsumsi energi termasuk:

  1. Pemasangan motor efisiensi tinggi di jalur pengemasan
  2. Pemasangan pemanas beban otomatis
  3. Pengurangan kebocoran udara terkompresi dan peningkatan kinerja kompresor udara
  4. Peningkatan kinerja HVAC
  5. Pemasangan blowdown otomatis dan kontrol TDS untuk boiler
  6. Pemasangan inverter untuk pompa transfer
  7. Pemasangan Ozone treatment
  8. Penggantian steam trap

Temukan data lengkap jejak emisi GRK kami dalam Sustainability Report (PDF | 21MB) halaman 62.

Perolehan bahan baku yang berkelanjutan

Sebagian bahan baku yang kami gunakan dalam brand kami berasal dari pertanian dan hutan. Oleh karena itu, kami membutuhkan bahan baku yang aman dan berkelanjutan diperlukan untuk pertumbuhan bisnis di masa depan. Pada saat yang sama, rantai pasokan pertanian Unilever menghubungkan kami dengan jutaan masyarakat.

Pendekatan kami terhadap sumber berkelanjutan memiliki lima standar utama, yaitu:

  1. Sumber berkelanjutan dengan standar tertinggi dari jaringan pemasok kami
  2. Mendorong perubahan melalui kebijakan peningkatan berkelanjutan dengan pemasok
  3. Meningkatkan kesadaran akan sumber berkelanjutan di antara konsumen kami
  4. Memainkan peran utama dalam transformasi sektor pertanian yang relevan dengan bisnis kami, terutama teh dan minyak sawit berkelanjutan
  5. Melindungi keanekaragaman hayati

Komitmen kami terhadap sumber berkelanjutan didukung oleh Program Pertanian Berkelanjutan kami. Inti dari program ini adalah Unilever Sustainable Agriculture Code (USAC) yang dikembangkan untuk memberi kami petani dan pemasok dengan serangkaian standar ketat yang akan memacu perbaikan di seluruh rantai pasokan. Kode tersebut mendefinisikan apa arti sumber berkelanjutan dalam praktek di lapangan, menggunakan 11 indikator sosial, ekonomi dan lingkungan: kesehatan tanah, kehilangan tanah, nutrisi, pengelolaan hama, keanekaragaman hayati, ekonomi pertanian, energi, air, modal sosial dan manusia, ekonomi lokal dan kesejahteraan hewan.

Unilever Sustainable Agriculture Code (USAC) diperbarui pada tahun 2017 yang bertujuan untuk meningkatkan standar lebih jauh lagi dengan menekankan lima bidang utama, yaitu:

  1. Tidak ada deforestasi
  2. Hak asasi manusia
  3. Kepatuhan hukum
  4. Buruh migran
  5. Proses pengaduan bagi pekerja

Baca lebih lengkap mengenai USAC di Sustainablity Report (PDF | 21MB) kami halaman 85 dan pendekatan kami terhadap perolehan bahan baku kami secara berkelanjutan di sini

Minyak kelapa sawit berkelanjutan

Sebagai tanaman serbaguna, kami menggunakan kelapa sawit pada berbagai produk Unilever sehingga menjadikan kami salah satu pembeli minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Saat ini, lebih dari 85% dari semua minyak kelapa sawit berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Kami berkomitmen untuk mempertahankan sumber minyak kelapa sawit, sebagaimana tercermin dalam Kebijakan Sumber Minyak Sawit Berkelanjutan kami. Inti dari kebijakan ini adalah komitmen kami terhadap prinsip No Deforestation, No Development on Peat, and No Exploitation of People and Communities (NDPE). Selain itu, kami juga terus berupaya agar minyak sawit dan turunannya yang kami peroleh untuk volume inti kami tersertifikasi 100% pada tahun 2019. Semua pemasok harus mematuhi Kebijakan Pengadaan Minyak Sawit Berkelanjutan sebagai bagian dari upaya kami untuk mendorong perubahan di sektor minyak sawit.

Dalam menjalankan komitmen kami terhadap perolehan minyak kelapa sawit secara berkelanjutan, kami mengimplementasikan beberapa inisiatif kami di tahun 2018, yaitu:

Program PT Perkebunan Nusantara (PTPN)

Pada awal tahun 2018, kami menjalin kemitraan dengan PTPN untuk membantu pabrik lokal dan petani kecil dalam memproduksi minyak sawit sesuai dengan standar NDPE. Dengan adanya kemitraan ini, produk akan terlindungi sehingga membantu petani meningkatkan hasil panen dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Pada 2018, Unilever dan PTPN mengadakan sejumlah lokakarya bersama tentang keberlanjutan dan tiga pabrik mendapatkan sertifikasi bekerja sama dengan staf PTPN. PTPN terus memperluas cakupan sertifikasi pabrik di PTPN III, IV, V.

Yurisdiksi dan lansekap

Pada tahun 2018, kami terus mendukung pendekatan yurisdiksi di Kalimatan Tengah dengan Yayasan Penelitan Inovasi Bumi (INOBU) yang telah berjalan sejak tahun 2016. Unilever telah mendukung kerja berkelanjutan INOBU dengan petani kecil di Koperasi Desa Tani Suber (KUD) untuk memetakan, melatih, dan menyiapkan 500 petani lainnya untuk sertifikasi.

Selain itu di Kabupaten Siak dan Pelalawan, Riau, kami telah bekerja sama bersama konsorsium besar mitra bisnis untuk mengembangkan program-program yurisdiksi. Program ini bertujuan untuk mentransisikan sebagian besar kedua kabupaten menjadi lanskap yang berkelanjutan, yakni tidak melakukan deforestasi dan eksploitasi minyak kelapa sawit dan mempertahankan atau meningkatkan area konservasi utama dengan membangun kerjasama antara pengusaha lokal dengan multi-pemangku kepentingan untuk meningkatkan visi bersama mengenai model produksi yang inklusif dan berkelanjutan.

Program petani kecil

Secara global, kami memiliki tujuan untuk mendukung dan memberdayakan 150.000 petani kecil pada tahun 2030 dengan tiga alur kerja untuk mencapai target, yaitu:

  1. Unilever mendukung proyek dilaksanakan oleh mitra masyarakat sipil
  2. Disruptive Sourcing Program
  3. Sertifikasi RSPO bagi Petani Kecil

Baca lebih lanjut mengenai ketiga alur kerja program petani kecil kami pada Sustainability Report (PDF | 21MB) kami halaman 87.

Keterlacakan dan transparasi rantai pasokan

Pada bulan Desember 2018, Unilever bekerja sama dengan Aidenvironment untuk membuat basis data minyak sawit dan platform pemetaan petani, penyuling, pedagang dan pabrik minyak kelapa sawit. Meskipun awalnya basis data ini hanya akan berfokus pada pemasok dalam rantai pasokan langsung dan tidak langsung kepada Unilever, nantinya basis data ini dapat dikembangkan dan digunakan oleh pemangku kepentingan lain di industri ini. Investasi kami akan berkontribusi dan memperkuat platform Aid environment online yang ada untuk memantau kepatuhan terhadap kebijakan NDPE perusahaan kelapa sawit.

Kedelai Hitam

Unilever memperkuat komitmen dalam pengadaan kedelai hitam untuk mencapai target memasok 100% kedelai hitam dari sumber yang berkelanjutan pada tahun 2020. Untuk mencapai itu, kami menerapkan inisiatif Unilever Sustainable Agriculture Code (USAC). Kami juga mendirikan Internal Control System (ICS) yang mengawasi pelaksanaan USAC di semua lokasi beroperasinya mitra koperasi kedelai hitam Unilever Indonesia. ICS didampingi oleh tim Control Union yang berperan menjadi konsultan dalam membantu koperasi dan petani untuk menyelesaikan proses sertifikasi.

Kami bersama dengan Universitas Gajah Mada sudah mengembangkan program untuk meningkatkan produktivitas budidaya kedelai hitam yang menjadi bahan penting untuk kecap manis Bango sejak lebih dari 15 tahun lalu. Varietas baru kedelai hitam, Malika, dihasilkan melalui kemitraan ini, varietas kedelai hitam tertinggi, yang produktivitasnya dapat mencapai 2,9 ton/ha. Petani lokal dilibatkan dan diberikan bantuan teknis untuk meningkatkan hasil panen dan meningkatkan kualitas dan efisiensi panen kedelai hitam.

Teh

Sejak tahun 2007, kami menjadi perusahaan teh besar pertama yang berkomitmen untuk menyediakan teh secara berkelanjutan dalam skala besar. Salah satu cara terpenting untuk mendorong perubahan di sektor pertanian adalah melalui sertifikasi. Bekerja sama dengan Rainforest Alliance (RA), Unilever Indonesia mengembangkan pemasok teh untuk mendapatkan sertifikasi RA. Dukungan diberikan melalui konsultasi untuk memenuhi kriteria sertifikasi keberlanjutan RA. Setiap tahunnya terdapat 2-5 pemasok yang ikut serta dalam skema ini.

Kami memperluas jangkauan dengan melibatkan petani kecil untuk memperoleh sertifikasi RA pada 2016-2017. Selain itu, kami juga mendorong supplier melakukan sertifikasi untuk mendukung produksi kami pada tahun 2018 dan seterusnya. Hasilnya, pada tahun 2018 kami berhasil meningkatkan material yang tersertifikasi RA dalam tea blend kami.

Gula kelapa

Gula kelapa adalah salah satu bahan utama Kecap Bango. 95% gula kelapa kami didapat dari petani lokal. Saat ini, sebagian besar pohon kelapa tinggi, tua, dan produktivitasnya menurun sehingga sulit bagi petani untuk menghasilkan gula kelapa dan memastikan mata pencaharian bagi generasi penerusnya. Kami menginisiasi beberapa program untuk memastikan pasokan gula kelapa secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi petani kecil yang memproduksi, di antaranya adalah:

Penanaman kembali sebagai investasi untuk masa depan

Pada akhir 2018 kami telah melibatkan 900 petani untuk menanam 176.000 pohon kelapa muda di lahan seluas 800 hektar. Melalui program ini kami menyediakan bibit kelapa, memberikan pelatihan praktek pertanian yang baik, dan bantuan teknis kepada petani untuk memastikan keberhasilan pengembangan perkebunan. Program ini telah menarik minat petani dan akan direplikasi pada tahun 2019.

Memberikan pendapatan alternatif kepada komunitas lokal

Di tahun 2018, Unilever Indonesia juga berkontribusi untuk mengembangkan masyarakat yang tinggal di perbatasan hutan di Kotawaringin Timur, Sampit, Kalimantan untuk menghasilkan gula kelapa sebagai sumber pendapatan alternatif, bekerja sama dengan Proyek Katingan yang dikelola oleh Rimba Makmur Utama. Tujuan program ini adalah untuk menyediakan peluang kerja dan menghasilkan pendapatan yang lebih baik bagi masyarakat lokal karena produksi gula kelapa memerlukan keterampilan khusus. Melalui Yayasan Puter, bantuan finansial diberikan untuk mendirikan sekolah lapangan bagi petani di Kotawaringin Timur.

Pada akhir 2018, 70 petani telah dilatih di daerah tersebut. Selain itu, pinjaman mikro juga diberikan untuk membangun fasilitas memasak untuk menghasilkan gula kelapa. Selama tahun 2018, lebih dari 1,3 ton gula diproduksi dan dijual ke pasar lokal dengan harga yang lebih baik daripada kopra, yang sebelumnya diproduksi. Ketika volume produksinya cukup besar, Unilever Indonesia berkomitmen untuk membeli gula kelapa yang berasal dari daerah tersebut.

Mencari Sumber Gula Baru

Proyek lain yang telah dimulai untuk memastikan keberlanjutan bahan baku dan mendukung masyarakat lokal adalah produksi gula nipah. Bekerja sama dengan mitra lokal kami di Pangandaran, tiga kelompok beranggotakan 20 petani dilatih untuk menghasilkan gula nipah berkualitas baik sesuai dengan standar Unilever dengan dukungan untuk membangun fasilitas memasak dan logistik untuk mengirimkan produksinya ke Unilever. Setiap minggu, Unilever telah membeli gula nipah dari daerah tersebut dan kami akan memperluas inisiatif ini ke pulau-pulau terluar Indonesia di mana nipah sawit tersedia.

Back to top

BERHUBUNGAN DENGAN KAMI

Kami selalu mencari cara untuk berhubungan dengan mereka yang memiliki minat yang sama terhadap masa depan yang berkelanjutan.

KONTAK KAMI

Berhubungan dengan Unilever dan tim spesialis atau menemukan kontak di seluruh dunia.

Kontak Kami