1. Home
  2. ...
  3. Siaran Pers
  4. Fenomena Naive Subject Picu Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak Berlebih

Fenomena Naive Subject Picu Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak Berlebih

Unilever JFEC

Indonesia merupakan salah satu negara dengan ragam budaya komunal cukup tinggi yang tercermin pada berbagai acara seperti perayaan hari raya, arisan, pesta pernikahan, dan lain-lain di mana setiap momen tersebut kerap dilengkapi dengan berbagai sajian makanan dan minuman. Tanpa disadari dengan kondisi tersebut, pola konsumsi masyarakat ikut berubah bahkan mengalami lonjakan dari pola konsumsi biasanya. Sering kali fenomena lonjakan pola konsumsi yang tidak konsisten (Naive Subject) tersebut menyebabkan asupan makanan dan minuman melebihi batasan rata-rata kalori harian.

Selain momen-momen perayaan tersebut, variasi pola diet yang tidak terkontrol juga dapat berujung pada Naive Subject yang tak jarang didukung dengan asupan gula, garam, dan lemak pada makanan dan minuman. Padahal konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan dapat memicu meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) yang merupakan salah satu penyumbang kematian tertinggi di Indonesia bahkan kini kasus penyakit tidak menular ini mulai banyak ditemui pada generasi lebih muda.

Sebagai salah satu produsen makanan dan minuman di Indonesia, PT Unilever Indonesia Tbk melihat pentingnya memberikan edukasi mengenai pentingnya mengatur pola konsumsi serta mengajak ibu untuk menyiapkan sajian bernutrisi seimbang melalui penyelenggaraan Jakarta Food Editor’s Club (JFEC). Acara ini merupakan salah satu bentuk implementasi Unilever Sustainable Living Plan sekaligus bentuk dukungan kepada pemerintah dalam mengajak masyarakat lebih memperhatikan konsumsi gula, garam dan lemak serta menekan jumlah penyakit tidak menular di Indonesia.

Di tahun-tahun sebelumnya, pesan Unilever Sustainable Living Plan juga diwujudkan melalui Blue Band dengan menggelar Minggu Sarapan Nasional di tahun 2015 yang berhasil mengajak lebih dari 5,000 siswa sekolah dasar dan ibu mereka di wilayah Jakarta mendapatkan edukasi tentang pentingnya sarapan bergizi sebelum berangkat sekolah.

Melalui acara ini, Unilever sekaligus mengukuhkan komitmennya untuk terus bekerja meningkatkan rasa dan kualitas gizi produk melalui inovasi dan reformasi berkelanjutan pada setiap produknya, dengan mendukung pola makan yang lebih baik untuk hidup masyarakat Indonesia yang lebih sehat.

Mengenali Fenomena Naive Subject

Pada dasarnya setiap orang dewasa membutuhkan rata-rata asupan kalori harian sebanyak 2000 kkal yang terbagi menjadi beberapa kali frekuensi konsumsi dengan jenis asupan yang disesuaikan pada kebutuhan tubuh sehingga tercipta sebuah pola konsumsi harian. Secara ideal, dalam sehari asupan makanan & minuman dibagi menjadi tiga kali waktu konsumsi, dan jumlah tersebut diterapkan pada pagi, siang, dan malam hari.

Namun sering kali pola konsumsi tersebut tidak konsisten yang disebabkan oleh beberapa kondisi yang tak sesuai dengan standar rata-rata kalori harian, seperti pada saat berpuasa, berbuka puasa, momen hari raya, arisan, resepsi pernikahan, hingga penerapan program diet yang kurang terkontrol.

Lebih janjut lagi, National Institutes of Health meneliti kebiasaan konsumsi pada 150 orang dewasa. Dalam penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa setiap 1 kilogram penurunan berat badan, seseorang akan makan ekstra sebanyak 100 kalori per hari. Sedangkan dari sisi psikologis, secara tidak sadar ketika seseorang merasa ‘kehilangan’ makanan favoritnya, maka orang tersebut cenderung menginginkannya lebih dari sebelum memulai diet.  Misalnya ketika mengurangi porsi makan, seseorang terkadang masih membutuhkan asupan camilan lainnya seperti cokelat, dan lain-lain.

Dengan kondisi pola makan yang tidak konsisten tersebut sering kali menyebabkan lonjakan asupan makanan dan minuman yang melebihi batasan rata-rata kalori dan tingkat konsumsi gula, garam, dan lemak harian. Dengan fenomena yang disebut dengan Naive Subject tersebut dapat memicu meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) pada masyarakat.

Mengenali Penyakit Tidak Menular (PTM)

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia.  Penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup yang kurang tepat ini antara lain:

  • Aterosklerosis
  • Stroke
  • Obesitas
  • Diabetes melitus
  • Jantung koroner dan gagal jantung

Dalam kasus ini, penyakit jantung masih menjadi penyumbang kematian tertinggi di Indonesia saat ini. Penyakit tidak menular atau non communicable disease (NCD) saat ini semakin banyak ditemui di Indonesia, bahkan beberapa kasusnya mulai merambah ke generasi yang lebih muda. Penyakit tidak menular ini juga menyebabkan kematian lebih awal pada masyarakat atau non communicable disease causes early death (NCDCED).

Pola makan yang belum seimbang ditandai dengan kelebihan gula, lemak dan minyak, rendah sayur dan buah diduga juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka penyakit tidak menular di Indonesia. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh SEAFAST Center, ditemukan fakta bahwa asupan garam dan lemak banyak ditemukan pada makanan siap saji di berbagai lapisan usia, sedangkan asupan gula banyak ditemukan pada pangan olahan.

Lebih lanjut dalam survey tersebut SEAFAST Center mengelompokkan pangan berdasarkan jumlah dan jenis di DKI Jakarta sebagai berikut:


  • Non pangan olahan merupakan pangan segar tanpa proses pengolahan yang merupakan bahan baku yang diolah rumah tangga dan restoran seperti susu segar, sayuran segar, buah segar, kacang tanah, bungkil, beras, jagung pipil, daging sapi, fillet ayam, ikan segar, telur ayam, kunyit, jahe, daun teh kering, ASI, dan lain-lain.
  • Pangan olahan antara merupakan pangan yang telah mengalami pengolahan oleh industri namun belum dapat dikonsumsi langsung atau merupakan komposisi dari produk pangan lain seperti krim, minyak goreng, margarin, tepung, agar-agar bubuk, kakao bubuk, pati, tepung panir, bihun kering, tempe, tahu, terasi gula pasir, gula aren, madu, bahan tambahan pangan, bumbu kering, garam, dan lain-lain.
  • Pangan olahan merupakan pangan yang diolah industri dan telah siap dikonsumsi atau hanya membutuhkan penyiapan sederhana sebelum dikonsumsi seperti susu kental manis, susu bubuk, minuman susu, es krim, keju, selai, cokelat butir, mi instan, biskuit, wafer, roti, abon, ayam goreng, sosis, ikan sarden dalam kaleng, telur asin, kecap, saus, bubur bayi, vitamin, formula bayi, kopi instan, minuman instan, dan lain-lain.

Berdasarkan data tersebut, SEAFAST Center juga menemukan fakta mengenai kecenderungan warga DKI mengonsumsi Non Pangan Olahan semakin berkurang seiring dengan pertambahan usia. Sementara itu, tingkat konsumsi Pangan Olahan Antara dan Pangan Olahan meningkat seiring dengan pertambahan usia.

Peran Ibu Siapkan Nutrisi Seimbang bagi Keluarga

Ibu memiliki peran penting untuk menyikapi fenomena Naive Subject dengan cara memilih, mengolah dan menyajikan makanan bergizi & bernutrisi bagi keluarga sehingga pola konsumsi garam, gula, dan lemaknya dapat lebih terkontrol.

Akan lebih sempurna jika sajian yang disiapkan memperhatikan komposisi vitamin, mineral, sayuran hijau dan berwarna lainnya, buah-buahan, serta ragam karbohidrat kaya serat seperti beras merah. Berdasarkan rekomendasi dari World Health Organization (WHO), setiap orang disarankan untuk mengonsumsi 150 gram buah dan 250 gram sayuran per hari.

Sebagai gambaran porsi makan yang seimbang, ibu dapat melakukan komposisi konsumsi sebagai berikut:

  • Pada saat sarapan, ibu dapat memilih menu nasi goreng telur dengan komposisi sayuran.
  • Untuk menu makan siang, dapat berupa tahu atau tempe, dengan nasi dan sop ayam serta buah.
  • Sedangkan pada makan malam, ibu bisa mencoba menu pepes ikan dengan tumis buncis dan buah.

Agar dapat menyiasati kelebihan asupan garam, gula dan lemak, ibu perlu memahami beberapa tips mudah yang bisa diterapkan, antara lain sebagai berikut:

  • Tidak perlu menambahkan garam apabila sudah menggunakan penyedap rasa.
  • Menggunakan margarin yang lebih banyak lemak baik.
  • Memilih minuman yang memberikan asupan gizi lebih selain hanya kandungan gula.

Unilever dalam Jakarta Food Editor’s Club bersama dengan Royco Blue Band, Bango dan Buavita berbagi inspirasi sajian praktis yang memperhatikan kandungan gizi untuk keluarga yaitu Nasi Goreng Bayam. Selain itu ada juga resep inspirasi dari Royco yaitu Nugget Oncom, Tempe a la Pizza, Pepes Tahu Ati Ampela, dan Sup Tahu Asam Pedas. Detil menu terlampir pada brosur.

Inspirasi menu praktis lain yang dapat disuguhkan pada keluarga yaitu Mangofeast dari Buavita. Untuk melihat lebih lengkap mengenai resep Mangofeast dari Buavita yang dipraktekkan dalam Unilever Jakarta Food Editor Club 2017 dapat mengunjungi www.buavita.co.id/recipe/Cold_Mix/mango-feast

Mengonsumsi masakan rumah memiliki beberapa manfaat antara lain lebih higienis, lebih sehat sebab menggunakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk mencukupi gizi harian, lebih dapat disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan tubuh, semakin mendekatkan hubungan antar anggota keluarga dan masih banyak lagi.

Komitmen Unilever

Unilever paham bahwa konsumen menginginkan makanan yang dipasok secara berkelanjutan dan diolah dengan bahan dan bumbu yang mereka ketahui dan percaya. Selain itu Unilever juga percaya bahwa produk yang berkualitas akan mendukung pola makan yang lebih baik untuk hidup yang lebih sehat, di mana hidup sehat merupakan salah satu dari 3 pilar Unilever Sustainability Living Plan (USLP).

Mayoritas portofolio Unilever telah memenuhi standar rekomendasi nutrisi nasional dan berada di jalur yang tepat untuk memenuhi komitmen 2020 yaitu melipatgandakan portofolio  yang memenuhi nutrisi tertinggi berdasar pedoman komposisi makanan yang diakui secara global.

Beberapa target Unilever di bidang nutrisi, antara lain:

  • Mengurangi kadar garam
  • Mengurangi lemak jenuh
  • Menghilangkan lemak trans
  • Mengurangi gula
  • Mengurangi kalori
  • Menyediakan informasi makanan sehat

Untuk itu, Unilever terus bekerja dalam meningkatkan rasa dan kualitas gizi produk melalui inovasi dan reformasi berkelanjutan.

Capaian inovasi dan reformulasi produk yang akan terus dilanjutkan tersebut antara lain:

  • Blue Band adalah satu-satunya margarin suhu ruang yang mengandung omega 3 & 6 yang baik untuk pertumbuhan anak, dan bisa menjadi bagian dari sarapan bernutrisi setiap hari untuk keluarga. Blue Band juga telah berhasil mengurangi kandungan lemak jenuh dan natrium
  • Membuat produk 0 gram lemak trans pada margarin (Blueband) & bumbu masak siap saji (Royco)
  • Buavita telah mengurangi penambahan gula pada produk hingga 36%, dan menyumbang asupan zat gizi mikro seperti vitamin A, vitamin B kompleks, dan Vitamin C
  • Es krim Paddle Pop yang ditujukan untuk anak, sudah dibatasi lemak, gula dan mengurangi 110 kkal
  • Produk-produk pangan Unilever memiliki informasi nilai gizi di label untuk memberikan edukasi ke konsumen pentingnya mengetahui jumlah asupan gula, garam, lemak dalam kesehariannya

Selain capaian tersebut dan sebagai salah satu komitmennya, Unilever akan terus memberikan edukasi mengenai pola makan sehat dalam upaya mengurangi penyakit tidak menular di Indonesia. Hal ini diwujudkan pada Diskusi dan Workshop mengenai Penyakit Tidak Menular pada 20 Juli 2017 lalu yang dihadiri para pakar dari berbagai sektor untuk bersama-sama menghasilkan solusi dari masalah ini. Diskusi tersebut adalah hasil kerja sama Unilever dengan PERGIZI PANGAN (Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia).

Telusuri lebih lanjut topik-topik ini
Back to top