1. Home
  2. ...
  3. Siaran Pers
  4. Unilever dan Hypermart Kampanyekan ‘Belanja tanpa Nyampah, Pilah Sampah itu Mudah’

Unilever dan Hypermart Kampanyekan ‘Belanja tanpa Nyampah, Pilah Sampah itu Mudah’

Upaya kerjasama Unilever bersama Hypermart dalam mengedukasi konsumen untuk memilah sampah agar mengurangi timbunan sampah di daratan dan lautan

Unilever Hypermart Surabaya Buang Sampah Unilever Hypermart Surabaya Trashion Unilever Hypermart Surabaya Foto Bersama

Surabaya, 2 Desember 2017 – Permasalahan sampah merupakan permasalahan pelik yang harus ditanggulangi bersama-sama. Setiap tahunnya dihasilkan 65.8 juta ton sampah di Indonesia dengan tingkat pemilahan sampah di masyarakat yang masih rendah. Ini pun membuat Indonesia menyumbang 1,29 MMT (million metric tons) sampah plastik ke laut setiap tahun.

Melihat hal itu Unilever Indonesia bersama dengan Hypermart mengajak konsumen/shopper untuk memilah sampah di rumah dan menyalurkannya ke dropbox yang ada di 3 toko Hypermat (Hypermart Pakuwon, Hypermart Sidoarjo dan Hypermart East Coast) melalui program ‘Belanja tanpa Nyampah, Pilah Sampah itu Mudah’ selama periode Desember 2017 – Februari 2018. Upaya ini dilakukan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pilah sampah untuk mengurangi timbunan sampah di alam ataupun di tempat pembuangan akhir (TPA). 

Maya Tamimi selaku Head of Environment and Sustainability dari Yayasan Unilever Indonesia menyatakan “Unilever percaya bahwa permasalahan sampah akan bisa diatasi jika semua pihak bekerjasama dalam menanggulangi permasalahan yang ada. Untuk itu, Unilever merasa perlu menggandeng banyak pihak salah satunya ritel seperti Hypermart untuk sama-sama mengalakkan edukasi mengenai pentingnya pilah sampah di tataran rumah tangga”. Maya menambahkan bahwa konsumen memiliki peranan penting dalam mengurangi sampah di  TPA/di alam, karena semua upaya dimulai dengan mengurangi dan mengelola (memilah) sampah di tingkat rumah tangga.

Komitmen Unilever dalam mengatasi permasalahan sampah sejalan dengan Unilever Sustainable Living Plan (USLP), strategi untuk terus menumbuhkan bisnisnya seraya mengurangi jejak lingkungan yang ditimbulkan hingga separuh dan meningkatkan dampak sosial bagi masyarakat. Unilever secara global telah berkomitmen untuk mengurangi berat kemasan produknya hingga sepertiganya pada tahun 2020; dan meningkatkan penggunaan konten plastik daur ulang di kemasannya minimal 25 % di 2025. Selain itu, Unilever juga menargetkan seluruh kemasan plastiknya akan dapat didaur ulang, digunakan kembali atau diurai di 2025.

Danny Kojongian selaku Corporate Communications Director & Corporate Secretary PT. Matahari Putra Prima Tbk. menyambut baik kerjasama antara Unilever dan Hypermart dalam mengurangi timbunan sampah kemasan produk di tengah masyarakat. “Kerjasama Unilever dengan Hypermart didasari oleh persamaan visi untuk mengurangi sampah kemasan yang terkirim ke tempat pembuangan akhir ataupun ke alam seperti lautan, yang dimulai dari skema pengumpulan sampah kemasan. Sebagai ritel, Hypermart merasa perlu ambil bagian dalam membantu mengatasi hal ini dengan berpartisipasi menyediakan dropbox pengumpulan sampah di beberapa toko Hypermart di Surabaya,” ujar Danny.

Program ‘Belanja Tanpa Nyampah, Pilah Sampah itu Mudah' diharapkan dapat mengedukasi konsumen untuk mengelola sampah dengan tepat. Sampah yang dikumpulkan konsumen tersebut akan disalurkan ke jaringan Bank Sampah binaan Unilever yang nantinya akan di salurkan ke industri daur ulang. Khususnya materi plastik fleksibel (plastik sachet dan pouch) akan menjadi materi untuk pabrik CreaSolv®, pabrik daur ulang sampah kemasan plastik yang dimiliki Unilever bersama mitranya di Sidoarjo. Akan ada reward yang diberikan kepada konsumen yang membawa sampah kemasan kosong dan bersih untuk dimasukkan kedalam dropbox.

Maya kemudian menambahkan bahwa program kerjasama ini merupakan salah satu upaya Unilever untuk mengubah pendekatan pengelolaan sampah yang sebelumnya menggunakan pendekatan linear economy (ambil – pakai – buang) menjadi circular economy atau ekonomi sirkular. “Pada intinya kami berusaha mengubah cara pandang terhadap plastik kemasan bekas pakai, tidak sebagai sampah, namun sebagai sebuah komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan dan memiliki nilai,” imbuhnya.

Pogram ‘Belanja tanpa Nyampah, Pilah Sampah itu Mudah' juga merupakan upaya Unilever untuk terus membangun kesadaran para pihak akan konsep solusi pengelolaan sampah kemasan yang terintergasi, atau Extended Stakeholder Responsibility (ESR). Konsep ini memaparkan permasalahan sampah sebagai tanggung jawab bersama dari semua pemangku kepentingan dalam mata rantai sampah dari hulu hingga hilir.

Upaya-upaya dalam mengatasi permasalahan sampah telah dilakukan oleh Unilever mulai dari sisi hulu hingga ke hilir. Di sisi hulu, Unilever mengembangkan inovasi dalam kemasan produk melalui inovasi bentuk kemasan yang lebih kecil dan mengoptimalkan berat kemasan sehingga dapat mengurangi limbah plastik dan kertas. Di sisi hilir, Unilever sejak tahun 2001 menjalankan program GREEN AND CLEAN, TRASHION, dan BANK SAMPAH, yang menjangkau masyarakat luas, serta program Zero Waste To Landfill di dalam kegiatan operasi Unilever sendiri.

Di awal 2017, Unilever telah membuat terobosan CreaSolv® Process, sebuah teknologi pertama di dunia yang mampu mendaur ulang plastik fleksibel kembali menjadi bahan baku kemasan sachet dan pouch. CreaSolv® Process hanya dapat dioptimalkan manfaatnya bila ada sistem pengelolaan limbah yang tepat dan layak.

"Kami berharap program kerjasama ini dapat meningkatkan kesadaran semua pihak untuk bersama-sama mengatasi permasalahan sampah dengan mulai memilah sampah dari tataran rumah tangga hingga instansi dan industri,” tutup Maya.

Telusuri lebih lanjut topik-topik ini
Back to top