Penutupan Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2016 di Universitas Brawijaya, Malang

Indonesia Belum Capai Target Bebas Karies Gigi yang Ditetapkan oleh WHO dan FDI

Penutupan BKGN 2016 2 Penutupan BKGN 2016

Malang, 24 November 2016 – Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2016 yang berlangsung di 21 Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) milik Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Program Studi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) serta 30 PDGI Cabang di seluruh Indonesia, memasuki babak akhir. Universitas Brawijaya, Malang untuk pertama kalinya mengikuti kegiatan BKGN, sekaligus sebagai tempat penutupan penyelenggaraan acara BKGN 2016.

Hadir menyaksikan acara penutupan BKGN 2016, Mirza Roesli, Head of Oral Care PT Unilever Indonesia Tbk.,  Artika Sari Devi, Puteri Indonesia 2004 sekaligus Brand Ambassador Pepsodent, didampingi Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S., Rektor Universitas Brawiajaya dan drg. R. Setyohadi, M.S., Dekan Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya, Malang dengan disaksikan oleh civitas akademi Universitas Brawijaya.

drg. Ratu Mirah Afifah GCClindent., MDSc, Head of Professional Relationship Oral Care, PT Unilever Indonesia Tbk., menjelaskan, “Tahun ini merupakan kali ketujuh BKGN diselenggarakan sejak dibuka di September 2016 sampai hari ini telah berhasil mengedukasi dan memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada 60.000 masyarakat Indonesia dengan melibatkan 6.000 tenaga kesehatan gigi dan mulut. Angka tersebut merupakan pencapaian yang baik sekali dan merupakan hasil kerjasama Unilever dengan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI)."

"BKGN merupakan salah satu wujud implementasi dari strategi Unilever Sustainable Living Plan (USLP) di mana Pepsodent mengambil peran untuk meningkatkan kesehatan gigi 100 juta masyarakat dunia di tahun 2020 dan menciptakan Senyum Indonesia yang lebih sehat,” 

Kondisi Indonesia untuk mencapai Indonesia Bebas Karies masih jauh dari harapan, mengingat target yang ditetapkan oleh WHO dan FDI untuk dicapai di tahun 2000 adalah  50% dari anak usia 5-6 tahun harus bebas dari karies gigi. Survei Kesehatan Gigi Nasional tahun 2015 – 2016 yang diselenggarakan oleh PT Unilever Indonesia Tbk., bersama Pengurus Besar PDGI dan Ikatan Profesi Kedokteran Gigi Masyarakat Indonesia (IPKESGIMI) menyimpulkan bahwa hanya 25,6% anak usia 6 tahun dan 42,3% anak usia 12 tahun yang bebas dari karies gigi.

Prevalensi karies gigi pada anak usia 6 tahun ditemukan sebesar 74,4%, sedangkan pada anak usia 12 tahun bergeser menjadi 59,3%. Dari angka tersebut menunjukkan sekitar 73,9% anak usia 6 dan 12 tahun memiliki karies gigi yang tidak dirawat.

Drg. Melissa Adiatman, PhD., Peneliti IPKESGIMI, memaparkan lebih rinci hasil survey tersebut “Rendahnya angka bebas karies  disebabkan oleh kebiasaan menyikat gigi yang salah dan kebiasaan tidak mengunjungi dokter gigi secara teratur. Terbukti bahwa 15,2% anak usia 6 & 12 tahun menyikat gigi kurang dari dua kali sehari, sebanyak 26,27% (N= 480 anak) tidak mengunjungi dokter gigi dalam 12 bulan terakhir, dan sebanyak 25,51% (N= 466 anak) tidak pernah mengunjungi dokter gigi untuk memperoleh perawatan."

"Sementara pada anak usia 12 tahun sebanyak 33.8% (N= 565 anak) tidak mengunjungi dokter gigi dalam 12 bulan terakhir, dan sebanyak 23% (N= 385 anak) tidak pernah mengunjungi dokter gigi untuk memperoleh perawatan. Baik anak usia 6 tahun dan 12 tahun yang mengunjungi dokter gigi dalam 12 bulan terakhir berkunjung ke dokter gigi sebagian besar sudah dalam keadaan  sakit atau terdapat masalah pada gigi, gusi, atau mulut (75,9% untuk anak usia 6 tahun dan 65,9% untuk anak usia 12 tahun)."

Bagaimana dengan status kesehatan gigi masyarakat Malang? Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2014, menunjukkan masyarakat kota Malang telah memiliki kesadaran yang baik untuk utilisasi pelayanan kesehatan gigi.

“Hal ini dapat dilihat dari rasio pencabutan di kota Malang, sebesar 1,8 sudah berada di atas rasio pencabutan provinsi Jawa Timur. Artinya, tindakan pencabutan di kota Malang sudah lebih sedikit dibandingkan dengan tindakan penambalan. Tindakan pencabutan juga merupakan tindakan yang paling sedikit dilakukan di kegiatan BKGN, dimana perawatan pembersihan karang gigi dan penambalan adalah perawatan yang paling dibutuhkan masyarakat. Dalam BKGN tahun ini, kami ingin mengajak masyarakat kota Malang untuk memelihara perilaku baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut,” jelas drg. R. Setyohadi, M.S., Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya, Malang.

Untuk memelihara perilaku yang baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut, selain memperhatikan waktu, frekuensi dan cara menyikat gigi, orang tua juga perlu mendampingi anak ketika menyikat gigi. Berdasarkan penelitian, anak yang didampingi orang tua ketika menyikat gigi memperlihatkan perbedaan signifikan dalam indeks kebersihan mulut, radang gusi dan gigi berlubang dibandingkan dengan anak yang tidak didampingi oleh orang tua. Lebih lanjut, menyikat gigi dua kali sehari pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur dapat selama minimal 2 menit dapat mengurangi resiko gigi berlubang sebanyak 50%.

“Sebagai orang tua saya sadar, bahwa penting untuk mendampingi anak menyikat gigi. Abbey (7) sudah terbiasa melakukan sikat gigi sehari dua kali, bahkan tidak jarang dia yang lebih sering mengingatkan Bapaknya. Sedangkan Zoe (3) masih perlu diingatkan dan didampingi, hal ini yang membuat saya dan Bapaknya harus kreatif mencari cara agar menyenangkan. Bersyukur sekali diberi kesempatan mengikuti kegiatan BKGN keliling daerah, saya mendapatkan banyak pengalaman sekaligus ilmu baru tentang kesehatan gigi. Saya jadi punya banyak cara untuk mendampingi anak-anak saya bagaimana menjaga kesehatan gigi dan mulutnya,” imbuh Artika Sari Devi, Puteri Indonesia 2004 sekaligus brand ambassador Pepsodent.

BKGN di FKG Universitas Brawijaya Malang sebagai tuan rumah acara penutupan adalah merupakan Fakultas Kedokteran gigi yang baru kali pertama berpartisipasi di BKGN tahun ini. Berlangsung selama tiga hari mulai dari 26 sampai 28 November 2016, menargetkan 1.000 orang yang berkunjung, serta melibatkan sekitar 250 tenaga kesehatan gigi untuk memberikan pelayanan.

“Rangkaian kegiatan BKGN diharapkan dapat memberikan kontribusi positif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut sekaligus mewujudkan Indonesia bebas karies gigi,” tutup drg. Mirah.

Telusuri lebih lanjut topik-topik ini
Back to top