1. Home
  2. ...
  3. Siaran Pers
  4. Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2016 Kembali Hadir di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2016 Kembali Hadir di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Kenal dan Cegah Kebiasaan Buruk Terkait Kesehatan Gigi Anak

Yogyakarta, 29 September 2016 – Pepsodent, pasta gigi keluarga produksi Unilever Indonesia, kembali berkolaborasi dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) untuk menyelenggarakan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) yang ketujuh. Tahun ini BKGN diselenggarakan di 21 FKG yang mempunyai Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) dan 30 kota PDGI cabang di Indonesia, mulai dari 19 September hingga 28 November 2016.

Kegiatan edukasi serta pelayanan kesehatan gigi dan mulut gratis yang dilakukan secara konsisten sejak tahun 2010 ini telah resmi dimulai  pada tanggal 19 September 2016 kemarin di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta menjadi lokasi keempat yang dikunjungi oleh BKGN. Selama tiga hari ke depan, mulai dari 29 September sampai dengan 1 Oktober 2016 masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya diberi kesempatan untuk melakukan pemeriksaan serta perawatan gigi di RSGM Universitas Gadjah Mada (UGM). Menargetkan 1.000 orang yang berkunjung, Fakultas Kedokteran Gigi UGM telah menyiapkan 145 dokter gigi (dosen dan mahasiswa program pendidikan spesialis), 145 mahasiswa koas dan 110 mahasiswa S1 untuk memberikan pelayanan. Hadir meresmikan acara drg. Erwan Sugiatno, M.S., Sp.Pros(K), PhD, Dekan FKG Universitas Gadjah Mada sekaligus Ketua AFDOKGI dengan disaksikan oleh civitas akademika UGM.

BKGN merupakan salah satu wujud implementasi dari strategi Unilever Sustainable Living Plan (USLP) di mana Pepsodent mengambil peran untuk meningkatkan kesehatan gigi 100 juta masyarakat dunia di tahun 2020 dan menciptakan Senyum Indonesia yang lebih sehat.

“Melalui BKGN kali ini, Pepsodent mengingatkan pentingnya peran orang tua, terutama ibu untuk mengenal dan mengetahui bagaimana cara mencegah kebiasaan yang berakibat buruk pada kondisi kesehatan gigi dan mulut anak. Sejumlah kebiasaan yang sering dilakukan anak dan dianggap sepele dapat berpotensi menjadi kebiasaan buruk yang dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut si kecil, dengan mengenal kebiasaan buruk si kecil maka orang tua bisa melakukan pencegahan sedini mungkin,” ujar drg. Ratu Mirah Afifah GCClindent., MDSc, Head of Professional Relationship Oral Care, PT Unilever Indonesia, Tbk.

“Berdasarkan RISKESDAS 2013, dari 93,6% masyarakat Yogyakarta yang telah menyikat gigi dua kali sehari secara benar, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur mencapai 3,4%. Angka tersebut sedikit berada diatas rata – rata nasional yang memprihatinkan yaitu 2,3%. Jika dikupas lebih lanjut, data tersebut juga menunjukkan 32,1% masyarakat Yogyakarta memiliki masalah gigi dan mulut namun baru 10,3% menerima penanganan. Untuk itu, kami menghimbau masyarakat di kota Yogyakarta memanfaatkan kehadiran BKGN di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gajah Mada” ungkap drg. Erwan Sugiatno, M.S., Sp.Pros(K), PhD, Dekan FKG Universitas Gadjah Mada sekaligus Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI).

Dr. Erwan menambahkan, “BKGN di Universitas Gadjah Mada memberikan pelayanan promotif, preventif, serta kuratif. Dengan demikian, kami berharap masyarakat Yogyakarta dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, termasuk mengenal dan mencegah sejumlah kebiasaan buruk yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut anak.”

Kebiasaan buruk yang umum berpengaruh bagi kesehatan gigi dan mulut adalah tidak berkunjung ke dokter gigi secara rutin. Padahal, dengan melalui kunjungan rutin ke dokter gigi,  permasalahan gigi bisa segera ditangani sehingga mampu mengurangi resiko gigi berlubang, penyakit gusi, serta mencegah perawatan lanjutan. Dengan perawatan rutin maka kondisi mulut seseorang menjadi lebih baik.

Kebiasaan buruk lain yang sering dianggap sepele adalah kebiasaan menyikat gigi dengan cara, frekuensi dan waktu yang salah. Padahal menyikat gigi dua kali sehari pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur dapat selama minimal 2 menit dapat mengurangi resiko gigi berlubang sebanyak 50%.

Lebih lanjut, orang tua juga perlu mendampingi anak saat menyikat gigi, karena penelitian memperlihatkan bahwa resiko gigi berlubang pada lapisan terluar dentin gigi berkurang secara signifikan sebesar 32% dan 56% pada lapisan dentin gigi terdalam pada anak yang mendapat pendampingan menyikat gigi dari orang tua.

“Kehadiran BKGN adalah salah satu yang bisa dimanfaatkan oleh para orang tua. Tiap tahunnya BKGN mampu menarik minat masyarakat untuk datang berkunjung melakukan konsultasi, penambalan sederhana yang tidak melibatkan perawatan syaraf gigi, pencabutan tanpa komplikasi gigi sulung atau gigi tetap, pembersihan karang gigi, dan perawatan pencegahan gigi berlubang dengan aplikasi fluoride atau fissure sealant,” tutup drg. Mirah.

Telusuri lebih lanjut topik-topik ini
Back to top