Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2016 Kembali Hadir di Universitas Islam Sultan Agung, Semarang

Kenal dan Cegah Kebiasaan Buruk Terkait Kesehatan Gigi Anak

Semarang, 6 Oktober 2016 – Pepsodent, pasta gigi keluarga produksi Unilever Indonesia, kembali berkolaborasi dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) untuk menyelenggarakan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) yang ketujuh. Tahun ini BKGN diselenggarakan di 21 FKG yang mempunyai Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) dan 30 kota PDGI cabang di Indonesia, mulai dari 19 September hingga 28 November 2016.

Kegiatan edukasi serta pelayanan kesehatan gigi dan mulut gratis yang dilakukan secara konsisten sejak tahun 2010 ini telah resmi dimulai  pada tanggal 19 September 2016 kemarin di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Semarang menjadi lokasi ketujuh yang dikunjungi oleh BKGN. Selama tiga hari ke depan, mulai dari 6 – 8 Oktober 2016 masyarakat Semarang dan sekitarnya diberi kesempatan untuk melakukan pemeriksaan serta perawatan di RSGM UNISSULA. Menargetkan 1.200 orang yang berkunjung, FKG UNISSULA telah menyiapkan 280 tenaga kesehatan gigi untuk memberikan pelayanan. Hadir meresmikan acara Drs. H. Heru Sudjatmoko, M.Si, Wakil Gubernur Jawa Tengah; drg. Suryono, S.H, M.M, Ph.D., Dekan FKG UNISSULA dengan disaksikan oleh Drg. Benni Benyamin, M.Biotek, Direktur RSGM FKG UNISSULA dan drg.Arimbi, Ketua PDGI Pengurus wilayah Jawa Tengah serta segenap civitas akademika UNISSULA.

BKGN merupakan salah satu wujud implementasi dari strategi Unilever Sustainable Living Plan (USLP) di mana Pepsodent mengambil peran untuk meningkatkan kesehatan gigi 100 juta masyarakat dunia di tahun 2020 dan menciptakan Senyum Indonesia yang lebih sehat.

“Melalui BKGN kali ini, Pepsodent mengingatkan pentingnya peran orang tua, terutama ibu untuk mengenal dan mengetahui bagaimana cara mencegah kebiasaan yang berakibat buruk pada kondisi kesehatan gigi dan mulut anak. Sejumlah kebiasaan yang sering dilakukan anak dan dianggap sepele dapat berpotensi menjadi kebiasaan buruk yang dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut si kecil, dengan mengenal kebiasaan buruk si kecil maka orang tua bisa melakukan pencegahan sedini mungkin,” ujar drg. Ratu Mirah Afifah GCClindent., MDSc, Head of Professional Relationship Oral Care, PT Unilever Indonesia, Tbk.

“Berdasarkan RISKESDAS 2013, dari 94,6% masyarakat Jawa Tengah yang telah menyikat gigi, baru 1,7% yang menyikat gigi secara benar, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Angka tersebut masih berada di bawah rata – rata nasional yang memprihatinkan yaitu 2,3%. Bila dikupas lebih lanjut, kajian data RISKESDAS 2013 juga menunjukkan 25,4% masyarakat Jawa Tengah memiliki masalah gigi dan mulut, namun baru 7,9% menerima penanganan. Untuk itu, kami menghimbau masyarakat di kota Semarang memanfaatkan kehadiran BKGN di RSGM UNISULLA,” jelas  drg. Suryono, S.H, M.M, Ph.D., Dekan FKG Universitas Islam Sultan Agung.

Dr. Suryono menambahkan, “BKGN di Universitas Islam Sultan Agung memberikan pelayanan, promotif, preventif serta kuratif. Dengan demikian, kami berharap masyarakat Semarang dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, termasuk mengenal dan mencegah sejumlah kebiasaan buruk yang dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut anak.”

Tidak berkunjung ke dokter gigi secara rutin merupakan kebiasaan buruk yang umum dilakukan oleh sebagian orang. Padahal, melalui kunjungan rutin ke dokter gigi, permasalahan gigi bisa segera ditangani sehingga mampu mengurangi resiko gigi berlubang, penyakit gusi, serta mencegah perawatan lanjutan. Dengan perawatan rutin maka kondisi mulut seseorang menjadi lebih baik.

Kebiasaan buruk lain yang sering dianggap sepele adalah kebiasaan menyikat gigi dengan cara, frekuensi dan waktu yang salah. Padahal menyikat gigi dua kali sehari pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur dapat selama minimal 2 menit dapat mengurangi resiko gigi berlubang sebanyak 50%.

Lebih lanjut, orang tua juga perlu mendampingi anak saat menyikat gigi, karena penelitian memperlihatkan bahwa resiko gigi berlubang pada lapisan terluar dentin gigi berkurang secara signifikan sebesar 32% dan 56% pada lapisan dentin gigi terdalam pada anak yang mendapat pendampingan menyikat gigi dari orang tua.

“Kehadiran BKGN adalah salah satu yang bisa dimanfaatkan oleh para orang tua. Tiap tahunnya BKGN mampu menarik minat masyarakat untuk datang berkunjung melakukan konsultasi, penambalan sederhana yang tidak melibatkan perawatan syaraf gigi, pencabutan tanpa komplikasi gigi sulung atau gigi tetap, pembersihan karang gigi, dan perawatan pencegahan gigi berlubang dengan aplikasi fluoride atau fissure sealant,” tutup drg. Mirah.

Telusuri lebih lanjut topik-topik ini
Back to top