”Doing Business Differently – growing sustainably in a resources-constrained world”

Kuliah umum Paul Polman, Chief Executive Officer Unilever di Universitas Indonesia.

Depok, 29 September 2011-- Universitas Indonesia melalui Direktorat Kemitraan dan Inkubator Bisnis (DKIB) bersama dengan PT Unilever Indonesia Tbk. mengadakan kuliah umum dengan tema ’Doing Business Differently – growing sustainably in a resources-constrained world, yang dibawakan oleh Chief Executive Officer Unilever, Paul Polman. Dalam kuliah umum ini, Paul Polman menjabarkan strategi pengembangan bisnis Unilever dengan penerapan prinsip sustainability dalam segala aspek.

Kuliah umum ini berlangsung di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat (29/9) dan dihadiri ratusan mahasiswa, baik dari Universitas Indonesia itu sendiri, maupun dari Universitas lain. Turut hadir dalam acara ini Wakil Rektor UI Bpk Muhammad Anis, Chief Human Resources Officer Unilever Douglas A. Baillie, dan Presiden Direktur PT Unilever Indonesia, Tbk. Maurits Lalisang.

Dalam paparan kuliah umumnya, Paul Polman menyampaikan empat hal yakni : (1) pandangan Unilever pada isu-isu maupun tantangan sosial dan lingkungan yang dihadapi dunia dalam masa mendatang, (2) bagaimana Unilever mempersiapkan diri untuk tumbuh dan berhasil dalam lingkungan yang sangat berbeda, (3) elemen kunci model bisnis baru yang berkelanjutan dimana perusahaan dapat mengadopsi semuanya di masa yang akan datang, (4) pentingnya kepemimpinan dan mengapa cara-cara baru melakukan bisnis bergantung pada bentuk-bentuk baru kepemimpinan.

Paul Polman menjabarkan mengenai tiga tren utama yang dipercaya akan memiliki dampak besar pada bagaimana dan di mana Unilever melakukan bisnis pada tahun 2020.

“Tren yang pertama adalah pergeseran kekuatan ekonomi ke Timur dan ke Selatan, dimana Cina, India, Rusia, Brazil dan tentu saja Indonesia akan mengambil peran utama dalam tatanan dunia baru. Pusat gravitasi dari bisnis Unilever pun akan bergeser ke Timur dan Selatan. Pada tahun 2020 sebanyak 70% dari penjualan kami akan berada di luar Eropa dan Amerika Utara.”

Tren besar kedua, papar Paul Polman, adalah bergesernya kekuatan kepada konsumen. Digitalisasi komunikasi dan media memberikan kekuasaan besar bagi setiap individu dan pengembangan search engine yang canggih serta perangkat mobile yang lebih terjangkau akan memberikan akses gratis dan mudah bagi semua orang untuk mendapatkan informasi.

“Tren besar ketiga, dan yang paling penting menurut saya adalah, apa yang kami sebut sebagai “the end of the age of abundance”. Kita menghadapi masa depan di mana sumber daya yang paling dasar yakni bahan pangan, energi dan air akan menjadi langka”, kata Paul.

Paul Polman memaparkan, International Energy Association memperkirakan bahwa pada tahun 2030 kita perlu menghasilkan energi 50% lebih banyak dari yang kita produksi sekarang. Kita pun harus memproduksi 50% lebih banyak bahan pangan daripada yang kita panen saat ini.Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, kebutuhan akan air juga akan semakin meningkat.

“Kita perlu memikirkan bagaimana implikasi dari semua ini terhadap ketersediaan bahan pangan, air, sanitasi dan kebersihan dasar di kota-kota besar seperti Calcutta, Istanbul dan termasuk Jakarta. Unilever ingin menjadi bagian dari solusi untuk masalah ini. Kami percaya bahwa kami bisa berkontribusi. “

Unilever memiliki strategi untuk menumbuhkan bisnis dua kali lipat tanpa meningkatkan dampak terhadap sumber daya di bumi.Strategi tersebut dituangkan dalam Unilever Sustainable Living Plan, yang telah diluncurkan pada akhir tahun 2010.

“Ada tiga hal yang signifikan dalam Unilever Sustainable Living Plan ini. Pertama, plan ini mencakup seluruh portofolio kami serta ke-180 negara tempat kami beroperasi. Kedua, berkaitan dengan lingkungan, plan ini tidak hanya mencakup dampak langsung yang ditimbulkan oleh pabrik, kantor dan laboratorium kami terhadap lingkungan, namun juga menuntut kami untuk bertindak secara bertanggungjawab dalam semua kegiatan di sepanjang rantai nilai (value chain) – mulai dari pemilihan bahan baku produk sampai penggunaan air dan energi yang diperlukan konsumen saat memakai produk kami. Ketiga, bagi Unilever, sustainability bukan melulu berkaitan dengan lingkungan, melainkan mencakup unsur sosial dan ekonomi juga. Kami membuat produk yang dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat; dan rantai nilai kami menjadi sumber penghidupan bagi jutaan orang.“

Rektor UI Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri mengatakan, “Public Lecture ini sangat penting dan diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi para mahasiswa UI maupun perguruan tinggi lainnya dimana nantinya mereka akan berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi di dunia, khususnya kawasan Asia. Semoga kegiatan ini dapat memberikan motivasi untuk peningkatan kualitas generasi muda Indonesia sehingga memiliki ilmu dan mental yang siap menghadapi pergeseran kekuatan ekonomi ke Timur dan Selatan.”

Maurits Lalisang, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia, Tbk mengatakan, “Kegiatan ini merupakan bagian dari Perjanjian Kerjasama Pendidikan antara Unilever dengan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang telah dilakukan sejak Mei 2011. Dengan kerjasama ini, berarti perusahaan telah turut membantu menaikkan kualitas angkatan kerja Indonesia, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktifitas dan daya saing Indonesia dalam menghadapi masa depan.”

PT Unilever Indonesia Tbk

Graha Unilever

Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 15

Jakarta 12930

+62 21 5299 6773

media-relations.indonesia@unilever.com

Back to top